Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Persaingan usaha : Para Raja Kecap Bersabda

Untuk sebotol kecap, segala cuaca pasti ditempuh. Bagi Fatina Djihan saat menuntut ilmu di University of Leeds, Inggris, empat tahun lalu, dia pasti rela naik bus selama satu jam ke Manchester hanya untuk membeli sebotol kecap produksi Indonesia.
Maklum, kecap manis adalah menu wajibnya setiap kali makan. "Rasanya seperti makan di rumah," ujar tenaga pengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta ini. Kebetulan, menurut Fatina, 33 tahun, merek kecap yang ditemui di kawasan Chinatown di Manchester itu sama dengan merek yang dikonsumsi keluarganya.
Tak mudah bagi kecap manis asli Indonesia untuk tiba ke tangan pelanggan setianya di luar negeri macam Fatina. Selain butuh jaringan yang luas, biayanya pun tak sedikit. Namun, dengan strategi bisnis yang tepat, distribusi ke mancanegara tak lagi jadi soal.
Perang strategi bisnis itulah yang dilakukan oleh dua produsen kecap manis asal Indonesia, ABC dan Bango, yang kini bersaing ketat mengejar posisi puncak. Yang satu pemain senior dengan merek kuat dengan konsumen setianya. Yang lain, pemain baru yang sukses mendongkrak penjualannya hingga kini.
Simak data terbaru Single Source Survey dari lembaga riset pasar asal Australia, Roy Morgan Research. Sepanjang April 2006 hingga Maret 2007, pembelian kecap ABC partai besar mengalami penurunan dari 51 menjadi 41 persen. Sebaliknya, penjualan kecap Bango dalam kurun waktu yang sama naik dari 19 menjadi 21 persen.
Menurut riset lembaga riset pasar Euromonitor International, pada 2001, ABC menguasai 40 persen dari total penetrasi pasar (market share) kecap di Indonesia sebesar Rp 1,6 triliun. Namun, pada 2005, posisinya menurun hingga 33 persen dari total pasar yang mencapai Rp 3 triliun. Sebaliknya, pangsa pasar kecap Bango tetap stabil selama 2001�2005, yakni sebesar 32 persen. "Ini perang bisnis antara dua merek yang sudah kuat," kata pengamat bisnis dari MarkPlus Institute of Marketing, Yuswohady.
Kecap manis ABC sebetulnya bukan pemain baru di dunia kecap nasional (lihat ABC, Setelah 32 tahun). Februari 1999, saham mayoritas pendiri kecap yang terdiri atas tujuh varian ini dibeli oleh HJ Heinz Co., perusahaan kecap yang berpusat di Pittsburg, Amerika Serikat. Tak lama kemudian, nama perusahaan pun berubah menjadi PT Heinz ABC Indonesia.
Lewat bendera barunya, kecap ABC mengalami perubahan teknologi informasi, proses pembuatan, dan jaringan pasar internasional. Hasilnya, angka penjualan tahunan kecap ABC dunia tak bergeser dari US$ 100 juta atau Rp 897 miliar, dengan kontribusi utama dari Indonesia. "Sejauh ini, kami masih memimpin pangsa pasar di Indonesia," kata Direktur Pemasaran PT Heinz ABC Indonesia, Iriana Ekasari Muazd.
Tak mau kalah, Unilever Indonesia pun mengakuisisi produk Kecap Bango pada 2001 (lihat Si Bango yang Terbang Jauh). Di tangan perusahaan multinasional ini, Kecap Bango tumbuh pesat lewat pemasaran modern. Kini, penjualan tahunannya mencapai Rp 500 miliar. Kecap Bango pun melebarkan sayap hingga ke Asia Tenggara dan Arab Saudi. "Negara lain sudah banyak yang melirik Bango," kata Manajer Senior Bango, Heru Prabowo.
Bendera perang pun makin berkibar. Setelah akuisisi dan joint venture, berikutnya adalah peremajaan produk. Mulai Februari tahun ini, Kecap Bango menyegarkan logo burung bangaunya dan mengubah merek dagang dari "Kecap Bango" menjadi "Bango". Unilever pun mengeluarkan kecap Bango kemasan sachet seharga Rp 300 per satuan, untuk menjangkau masyarakat kelas bawah. "Namun, belum tersebar di seluruh Indonesia," kata Dicky Saelan, Manajer Pemasaran Divisi Makanan PT Unilever Indonesia Tbk.
Seminggu setelah Bango berganti baju, ABC pun tampil lebih segar dan modern, walau tanpa mengubah logo dan merek. Menurut Iriana, perubahan ini dilakukan bukan karena latah, melainkan "sudah dipersiapkan sejak setahun lalu".
Perang pun berlanjut lewat promosi langsung dengan konsumen (below the line). Tayangan program televisi "Bango Cita Rasa Nusantara" masih dipertahankan, bahkan kontraknya terus diperpanjang. Jurus jitu lainnya, menggelar acara "Festival Jajanan Bango" yang tahun ini memasuki tahun ketiga. Diselenggarakan di beberapa kota besar, acara ini terbukti sukses menggaet penikmat baru kecap Bango.
Heinz ABC Indonesia tak tinggal diam. Lewat program ABC Culinary Academic, dicetaklah penasihat masakan (cooking advisor) hasil didikan juru masak ABC. Nantinya, penasihat ini akan ditempatkan di gerai penjualan kecap ABC untuk memberi tips membuat masakan lebih sedap. Juru masak ABC pun iklan paling tokcer. Mereka siap diundang demo masak secara cuma-cuma dengan menggunakan kecap ABC.
Persaingan kedua merek ini paling kentara lewat promosi media (above the line), sebab kedua perusahaan besar ini tak pelit mengeluarkan dana untuk beriklan. Pemantauan Nielsen Media Research pada 2006, Unilever menghabiskan dana Rp 23 miliar untuk promosi kecap Bango. Sedangkan Heinz ABC Indonesia membayar Rp 22 miliar untuk belanja iklan kecap ABC.
Hasilnya, Bango memang bukan pemimpin pasar. "Tetapi dia memimpin emosi sehingga lebih dikagumi pelanggan," tutur Yuswohady. Dampaknya, brand equity Bango pun semakin kuat.
Untuk melawan balik Bango, Yuswo punya solusi. "Jangan terpancing," katanya. ABC harus tetap memelihara kepercayaan dirinya sebagai pemimpin pasar. Karena jebakan paling mematikan bagi ABC adalah menjadi pengikut dan mengikuti aturan baru yang diciptakan Bango.

Si Bango Terbang Jauh
Bango, bukan Bangau.
Itu karena kecap ini semula merupakan industri rumah tangga yang hanya dikenal di Jakarta dan Jawa Barat. Didirikan oleh Keluarga Tjoa Eng Nio pada 1928 di Tangerang di bawah bendera PT Anugerah Setia Lestari, pemiliknya bercita-cita mengembangkan si Bango hingga ke mancanegara. Mimpi itu memang terwujud lewat ekspor ke berbagai negara dengan omzet Rp 1 miliar per bulan. Cita-cita itu semakin nyata setelah pada 1992 Kecap Bango dipimpin oleh Eppy Kartadinata, putra keempat pasangan Yunus Kartadinata-Tjoa Eng Nio, yang menerima pinangan Unilever Indonesia untuk mengambil alih kepemilikan Kecap Bango. Sejak 2001, Kecap Bango pun resmi menjadi bagian dari Unilever Indonesia.
Pemilik boleh berganti, namun rasa asli Kecap Bango tetap dipertahankan. "Kualitasnya terus ditingkatkan," kata Heru Prabowo, manajer senior merek Bango. Caranya dengan membina petani penghasil kedelai hitam, bahan dasar Kecap Bango, untuk mendapat hasil yang lebih baik.
Hingga enam tahun pasca-akuisisi, banyak hal telah dilakukan oleh Unilever Indonesia. Tak hanya mengekspor Kecap Bango hingga ke seluruh Asia Tenggara dan Arab Saudi, anak perusahaan Unilever International yang berkantor pusat di London, Inggris, dan Rotterdam, Belanda, ini pun meremajakan si Bango yang dinilai tak menggairahkan lagi.
Sejak 1 Februari lalu, Bango tampil dengan nama, logo, dan kemasan baru. Jika dulu mengusung merek Kecap Bango, sekarang cukup Bango saja. Kemasannya pun berubah menjadi terkesan lebih muda dengan warna-warna segar. Kini, si Bango siap terbang jauh dari sarangnya.

ABC, Setelah 32 Tahun
Pemain tua ini masih bergigi. Meski beberapa tahun terakhir brand value-nya menurun, pamor kecap ABC sebagai kecap nomor satu negeri ini masih melekat. Penampilan barunya sejak 7 Februari terkesan modern.
Kecap ABC memang salah satu produk andalan PT ABC Central Food Industri yang berdiri pada 1975. Pendirinya, Chu Sok Sam, mengawali kiprah bisnis di pabriknya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Tiga tahun kemudian, ia mulai memproduksi sirup, sambal, dan saus tomat. Sejak 1982, mereka memproduksi teh, kopi, dan sari buah dalam kemasan, disusul makanan bayi, ikan kaleng (sarden), dan daging kaleng (corned beef). Produk-produk itu kemudian diekspor.
Sepeninggal Chu pada 1986, generasi kedua, Kogan Mandala, memimpin perusahaan dengan tiga pabrik ini. Sedang giat-giatnya berekspansi, krisis ekonomi melanda. Untuk mengatasi masalah keuangan, ABC Central Food Industry menjual 65 persen sahamnya kepada HJ Heinz Co., raksasa kecap terkemuka asal Amerika Serikat. Otomatis sejak Februari 1999, kecap ABC bernaung di bawah PT Heinz ABC Indonesia.
Sebetulnya kisah sukses Chu Sok Sam bukan hanya produksi makanan-minuman saja. Bersama saudaranya, Chandra Djojonegoro alias Chu Sam Yak, ia juga berhasil membesarkan batu baterai ABC dan Anggur Tjap Orang Tua.
Di bawah pimpinan generasi keduanya pasca-1980, bisnis mereka justru menggurita. Akuisisi, usaha patungan dan pendirian perusahaan baru dilakukan, di antaranya menghadirkan Red Bull (Kratingdaeng), membidani kelahiran pembuat minuman Kiranti, Larutan Penyegar Panjang Jiwo, Larutan Penyegar Tjap Orang Tua, permen Tango, serta pasta gigi Durodont, ABCDent, dan Formula Junior.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/

Mengintip Peluang Bisnis Media Cetak di iPad

Beberapa pengamat memprediksi bahwa iPad bakal menggantikan koran atau majalah di masa depan. Dilihat dari sisi produksi, jelas bahwa teknologi paperless ini lebih efektif ketimbang kertas yang harus didaur ulang.

Sementara dilihat dari sisi ergonomisnya, jelas pembaca di masa depan tak perlu menumpuk koran atau majalah usang lagi di gudang. Dari sisi kepraktisan, benda berukuran 9,7 inchi ini juga lebih enak dijinjing kemana-mana, dibanding koran atau majalah.

Beberapa taipan media luar sudah memiliki rencana bisnis sendiri. Idenya sederhana, hanya memindahkan konten dari koran atau majalah mereka ke iPad. Sisi pemasaran pun telah berubah. Dari kios nyata menjadi 'kios online', dari ngecer menjadi download. Sukseskah model bisnis baru ini?


GQ, Majalah iPad Pertama Terjual 365 Kopi

GQ adalah salah satu dari majalah pertama yang muncul di iPad. Di App Store, GQ dijual seharga US$ 2.99. Harga tersebut jauh lebih murah ketimbang versi 'fisik' nya yang dibanderol US$ 4.99.

"Dengan harga ini, kami tak membutuhkan biaya ekstra. Tak ada biaya cetak atau pengiriman," ujar Pete Hunsinger, Vice President serta penerbit GQ, seperti dikutip detikINET dari Apple insider, Selasa (18/5/2010).

"Semua ini berujung pada profit, saya melihat visi ke depan, bahwa iPad bakal menjadi komponen utama bagi sirkulasi kami," tambahnya.

Walau angka penjualan GQ masih dirasa rendah, namun Hunsinger percaya model bisnis ini ke depannya bakal menguntungkan. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa pengiklan yang terus bertambah di GQ.

Benar saja, pada bulan Mei 2010 ini penjualan GQ meningkat tajam. Berkembang isu bahwa majalah tersebut bakal menjadi best-seller di App Store nantinya. Dari kasus GQ ini dapat dilihat bahwa untuk mencapai keuntungan, penerbit harus bisa bersabar menunggu respon positif dari pasar. Saat publik sudah 'terjerat', di situlah uang mengalir. Penerbit pun tinggal menunggu sembari senyam-senyum melihat jumlah unduhan yang terus bertambah.


Apakah Media Cetak Harus Beralih ke iPad?

Perlahan-lahan nantinya selera konsumen pun bakal berubah. Seiring hal ini, pertanyaan baru muncul, apakah media cetak harus mengikuti model bisnis baru tersebut? Tentu jawabannya bisa bervariasi, tergantung konteksnya.

Menanggapi hal ini, ada baiknya menengok konvergensi teknologi yang telah dilakukan beberapa media asing. Sekitar sebulan lalu, ABC memperkenalkan aplikasi mereka di iPad. Tak lama setelah itu aplikasi mereka laris dengan jumlah pengunduh lebih dari 200.000.

Di awal bulan ini, Taipan Media Rupert Murdoch tengah menikmati hasil dari model bisnis ini. Pasalnya aplikasi iPad Wall Street Journal (WSJ) miliknya, kini memiliki lebih dari 64.000 pembaca. Sebagai informasi, kedua contoh aplikasi berita tersebut saat ini masih gratis.

Fakta-fakta di atas telah membuktikan bahwa pasar ternyata menerima dengan baik model bisnis baru ini. Walaupun terasa lambat, namun prospek model bisnis media paperless ini dipandang cerah ke depannya.

Sayangnya belum ada penelitian yang disiarkan di media terkait efektifitas iPad dibanding koran atau majalah, dilihat dari selera pasar, efektifitas sirkulasi, serta biaya produksinya. Kita tunggu saja, apakah pelaku bisnis media cetak lokal juga bakal melirik iPad? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Twitter: Indonesia nomor tiga di dunia

Bill Gates di Twitter Setelah tercatat sebagai pemakai Facebook terbesar kedua di dunia, Indonesia kini menjadi pemakai terbesar ketiga Twitter setelah AS dan Jepang.

Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset internet yang berkantor di Paris, Semiocast, yang diterbitkan hari Senin (05/7).

Penelitian ini menunjukkan bahwa Asia sekarang mengambil alih posisi AS sebagai kawasan yang paling aktif di dunia dalam menggunakan Twitter.

Angka-angka yang dikumpulkan Semiocast memperlihatkan pengguna Asia saat ini mengirimkan 37% dari 96 juta pesan pendek, atau tweet, di seluruh dunia setiap hari.

Kiriman pesan dari pemakai di Amerika Utara hanya 31% dari total per hari, menurun dari 36% tiga bulan lampau. Pangsa Asia meningkat dari 31,5% pada bulan Maret.

Pemicu popularitas

Menurut Semiocast, penyebaran telefon model terbaru di Asia dan layanan bahasa Jepang oleh Twitter diduga ikut berperan dalam peningkatan jumlah pengguna jejaring sosial mirko itu.

Di Korea, situs jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook mulai populer setelah pemasaran iPhone Apple tahun lalu. Kemudian, distribusi telefon canggih buatan lokal seperti Samsung, LG dan alat-alat teknologi canggih lainnya membuat situs itu lebih populer lagi.

Layanan bahasa Jepang di Twitter dimulai pada tahun 2008. Penggunaan bahasa Jepang inilah yang membuat situs itu menjadi booming di negara ini, kata para analis. Mereka mengatakan, pengenalan huruf Jepang adalah faktor utama popularitas jejaring sosial tersebut.

Konferensi Twitter Ketika Jepang bertanding melawan Denmark pada pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan belum lama ini, sebanyak 3.283 pesan dikirimkan setiap detik melalui Twitter bahasa Jepang, menurut persuahan riset Nielsen Company.

Sekarang ini, semakin banyak selebriti dan politisi serta perusahaan yang mengirimkan pesan pendek ke para pengikut mereka.

Di seluruh dunia ada 150 juta pelanggan Twitter, dan rata-rata 330.000 pengguna internet mendaftarkan diri sebagai anggota baru, tiap hari.

Dalam urutan dunia, Amerika Serikat masih berada di urutan pertama sebagai pengguna Twitter, diikuti oleh Jepang, Indonesia, Brazil dan Inggris. Korea Selatan di posisi ketujuh.

Untuk peringkat Asia, Jepang paling banyak mengirimkan tweet, diikuti oleh Indonesia, Korea dan India.

Pemasaran Rokok Herbal Dari Mulut ke Mulut Hingga Dunia Maya

Pemasaran menggunakan jaringan kultural justru lebih mengena dan tepat sasaran. Setelah satu tahun berdiri, bisnis ini terus berkembang. Dan kini jumlah pekerja mencapai 200 orang dengan pemasaran ke seluruh Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.

Manager Marketing PR UD Putra Bintang Timur Mujiono mengaku kunci keberhasilan dalam mengembangkan usaha ini adalah kerja keras. Seluruh karyawan harus mengetahui seluruh proses pembuatan rokok, mulai melinting hingga penjualan. Sehingga terjadi proses pembelajaran tidak hanya menimba ilmu agama di lingkungan pondok.

"Produk ini juga lain dari rokok yang telah beredar, karena rokok ini untuk pengobatan dengan bahan baku herbal," kata Mujiono saat ditemui di kompleks Perum Kalianyar Permai C-1 Desa Sidodadi Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, Kamis (4/11/2010).

Mujiono menambahkan, pada dasarnya rokok buatan Abdul Malik ini berkhasiat ampuh. Bukan hanya dihisap, rokok bisa digunakan untuk terapi dengan jalan merebusnya. Air rebusan itu kemudian diminum oleh para pasien. "Seluruh bagian rokok bisa mengobati," imbuhnya.

Sebelumnya harga rokok ini dijual sebesar Rp 2 ribu, kini berkembang dan bervariasi mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 13 ribu. Produk yang dihasilkan adalah 7 rokok kretek dan 4 rokok filter, kesemuanya satu payung dengan nama rokok terapi sin.

Sekarang usaha rokok Abdul Malik telah berkembang pesat dan berhasil menghidupi banyak orang. Abdul sendiri masih berkeinginan untuk mengembangkan rokok tanpa tembakau. Hal itu mungkin dilakukan mengingat road mape pembatasan rokok mendatang. Sementara rokok di Indonesia sudah menjadi tradisi.

"Saya kini coba kembangkan rokok dari bahan baku daun bayam dan daun pisang, sekarang masih dalam tahap penelitian," kata Abdul Malik.

Kesuksesan dalam mengembangkan usaha ini terus dilanjutkan. Hasilnya untuk menyantuni anak yatim, janda, dan fakir miskin. Kini hampir 700 santrinya menimba ilmu di ponpes binaannya dan menjadi konsumen tetap.

10 Hal Penting Bagi Aplikasi Bisnis di Indonesia

Oracle dan Frost & Sullivan menggelar survei pada 1.528 perusahaan menengah. Survei dilakukan di kawasan Asia Pasifik, mencakup Indonesia dan negara ASEAN lainnya serta negara lain seperti India, China, Australia maupun Korea Selatan.

Survei itu mencoba mengukur hal apa yang diinginkan kalangan perusahaan dari aplikasi di lingkungan bisnis. Secara khusus, survei ini melihat deployment, maintenance, skala ekonomi serta keamanan dan kecepatan.

Di Indonesia, hasil survei itu menyimpulkan, perusahaan punya perhatian besar pada deployment, dukungan, fleksibilitas dan keamanan serta kecepatan untuk mendapatkan keuntungan.

Berikut adalah 10 hal yang dianggap paling penting dari sisi kebutuhan bisnis sesuai urutannya:

  1. Dukungan Pascapenjualan vendor software
  2. Kecepatan dalam menyelesaikan masalah
  3. Penggelaran proyek yang sesuai anggaran
  4. Kemampuan untuk mengintegrasikan sistem dan kebutuhan dari berbagai departemen dan mitra bisnis.
  5. Kemudahan untuk penggelaran perbaikan/penambalan.
  6. Pertimbangan keamanan yang komprehensif
  7. Penggelaran proyek yang tepat waktu
  8. Kemudahan kustomisasi aplikasi
  9. Kemudahan penggelaran update keamanan
  10. Kecepatan untuk mendatangkan keuntungan bagi bisnis

Sedangkan jika yang dilihat adalah performanya, respon terbesar dari Indonesia mencakup hal-hal seputar permasalahan umum, deployment, support hingga perencanaan anggaran.

Urutannya, dari sisi performa, adalah sebagai berikut:

  1. Pemahaman mendalam dari Dept. TI terhadap kebutuhan bisnis
  2. Penggelaran proyek yang sesuai dengan bujet
  3. Kemudahan pemeliharaan data
  4. Penggelaran proyek yang cepat
  5. Dukungan pascapenjualan dari vendor software
  6. Kustomisasi aplikasi
  7. Kecepatan untuk mendatangkan keuntungan bagi bisnis
  8. Pengelolaan aplikasi keamanan
  9. Penggelaran perbaikan/penambalan
  10. Penggelaran proyek tepat waktu

Oracle mengaitkan survei ini dengan program bernama Oracle Accelerate. Ini merupakan sebuah strategi yang menggabungkan Oracle Applications dan Oracle Business Accelerators.

Oracle Business Accelerator konon bisa digunakan untuk menerapkan sebuah proyek Enterprise Resource Planning (ERP) dalam 30 hingga 60 hari.

Suraj Pai, Senior Director, Sales for Commercial Accounts, Oracle untuk wilayah ASEAN dan South Asia Growth Economies, mengatakan saat ini ada lebih dari 25.000 pengguna Oracle Applications skala menengah.

XL: Berinvestasi dalam Komunitas Blogger



Ada sejuta blogger Indonesia di tahun ini. Era konsumen bicara pun tiba. Para pemilik merek pun mulai menggandeng komunitas blogger dan netizen untuk kegiatan pemasaran dan korporasi. Seberapa efektif?

Tak disangkal, perkembangan aktivitas ngeblog di Indonesia boleh dibilang spektakuler. Setahun terakhir, jumlah blogger meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi 1 juta blogger. Jumlah pengguna internet di tanah air mencapai lebih 30 juta pengguna di tahun 2009. Sementara, Bahasa Indonesia berada di urutan ke tiga di dunia sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di WordPress.

Perhatian pemerintah pada blogger boleh dibilang cukup besar. Buktinya, pemerintah menetapkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Penetapan ini bertepatan dengan Pesta Blogger pertama 27 Oktober 2007. Pesta Blogger merupakan ajang temu nasional para blogger di Indonesia. Pada tahun ini, Pesta Blogger sudah dilakukan untuk ketiga kalinya. Dukungan pada Pesta Blogger setiap tahunnya kian besar. Kedutaan Amerika Serikat untuk Indonesia menjadi sponsor tetap ajang ini. Belum lagi dukungan dari para blogger luar negeri. Tak ketinggalan para pebisnis pun mulai melirik komunitas berbasis web 2.0 ini. Mereka mulai membangun relasi baik dengan para blogger maupun netizen untuk kegiatan pemasaran maupun korporasi mereka.

Beberapa merek yang mulai menggandeng para blogger ini, antara lain operator seluler XL, bir Guinness, dan Pertamina. Beragam kegiatan pun digelar dengan melibatkan komunitas tersebut.

“Kita sudah memperhatikan komunitas ini semenjak dua tahun lalu. Ini adalah era community base. Orang Indonesia suka berkumpul. Guyub dan saling bertukar informasi. Internet telah menyediakan ruang baru bagi mereka,” kata Handono Warih, General Manager Direct Sales PT Excelcomindo Pratama Tbk.

Sebagai perusahaan jasa, XL cukup peduli dengan perkembangan dunia digital ini. Khususnya, jejaring sosial yang kian disesaki peminat. “Jejaring sosial sudah menjadi kepedulian kami sejak awal. Termasuk sebelum Facebook, Twitter ngetren seperti sekarang ini. Kita melihat tren pasar. Pada tahun 2007, blogger menjadi tren. Pada tahun 2008, kegiatan blog tetap berkembang tapi lebih marak dilakukan dengan Facebook. Di Facebook, orang masih bisa melakukan aktivitas blogging sekaligus men-sharing-kannya kepada yang lain. Apalagi di Facebook, orang dengan mudah saling berkomentar,” katanya.

XL juga mendukung ajang Pesta Blogger. Dalam Pesta Blogger 2009, XL menggelar program XL Blog Award. Ajang ini merupakan ruang penghargaan bagi para pengelola blog yang menuangkan ide dan kreativitasnya. XL Blog Award ini menyajikan 10 kategori untuk penilaian. Pemenang diumumkan dalam puncak acara Pesta Blogger pada 24 Oktober 2009 di Jakarta. Blogger yang berpartisipasi dalam lomba wajib mencantumkan logo XL Blog Award di tiap blognya. Pesertanya pun cukup banyak.

“Kita di blogger tidak sekadar sponsor. Tapi, juga bagaimana secara produk, XL juga semakin diketahui oleh banyak orang. Kita pernah melombakan membuat cerita. Setiap peserta harus mencantumkan logo XL di setiap aktivitas mereka dan di-posting di Nyambungterus.com,” tambah Febriati Nadia, Head of Corporate Communication XL.
XL beberapa kali mendukung kegiatan komunitas blogger. Asal tahu saja, komunitas blogger semakin bertumbuh. Seperti terlihat dalam Pesta Blogger lalu, hampir setiap kota di Indonesia mempunyai komunitas sendiri. Misalnya, komunitas Lumpia dari Semarang, Cah Andong dari Yogyakarta, Angin Mamiri dari Makassar, blogger Bali, Bekasi, dan sebagainya. Termasuk beberapa blog dikelola secara keroyokan seperti Kompasiana yang digawangi oleh Kompas.com, Politikana, Publikana, dan sebagainya.
“Intinya, XL sadar pada aktivitas teman-teman blogger. Banyak hal yang bisa kita petik. Dari yang sifatnya improvement XL ke depan sampai media untuk mendengarkan suara pelanggan kita. Sekarang, masyarakat tidak hanya mengandalkan satu saluran resmi dari korporat. Tapi, juga melalui media sosial seperti ini,” katanya.

Handono mengamini bahwa era sekarang disebut sebagai era konsumen bicara. Fenomena web 2.o ini telah mengubah pola relasi antara perusahaan dan konsumennya. Sekarang, polanya dua arah. Bahkan, konsumen bisa menciptakan medianya sendiri untuk menyampaikan opininya.

“Dengan blog, Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lainnya, kita dengan cepat bisa mengetahui keluhan-keluhan. Ini merupakan tantangan. Biasanya, kita dengan cepat pula merespon dan mengarahkan keluhan itu untuk ditangani secara resmi,” imbuh Nadia.

Bagi XL, komplain pelanggan melalui media sosial bukanlah bencana. “Tips-nya, asalkan kita transparan, cepat tanggap, segala komplain tadi bisa segera diatasi. Digital web 2.0 sebenarnya sangat bagus untuk pengembangan image perusahaan. Komplain di internet bagi kami bukan masalah. Tapi, itu tantangan!” imbuh Nadira Febriati.

Dengan kesigapan dan transparansi, XL mampu mengubah blogger yang bisa menulis keluhan menjadi agen baru. Setiap ada produk baru, dia yang untuk pertama kali me-review. “Mereka yang akan membagikan informasi itu ke komunitas yang lain, mengingat dengan mudah informasi ini dibagikan melalui media blog. Kita juga sering memberikan special price kepada mereka,” imbuhnya.

XL juga senantiasa mendorong agar aktivitas blogging bisa mendatangkan sesuatu yang bermanfaat, khususnya bagi blogger itu sendiri. “Ke depan, kita punya supporting dengan Google dengan menggelar seminar UKM. Kita undang juga para blogger dan pengguna internet. Kita akan edukasi terus bagaimana dengan internet mereka bisa menghasilkan dan mendapatkan sesuatu. Kita ingin mereka menjadi blogpreneur,” katanya.

Sementara itu, Herman Sulina, Marketing Manager Guinness, melihat media digital sangat efektif untuk berkomunikasi dengan target pasarnya, khususnya bagi generasi muda. “Saat ini, yang paling efektif adalah para blogger. Bagi saya, para blogger ini adalah para market influencer sejati. Beberapa blogger mempunyai follower sehingga informasi lebih luas tersiar. Digital menjadi media,” kata Herman.

Dalam rangka peringatan ulang tahunnya ke-250, Guinness Indonesia mengadakan lomba penulisan artikel dan foto untuk para blogger. Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung. Empat pemenang lomba penulisan artikel dan foto diundang untuk menghadiri perayaan Global Guinness 250 tahun di Dublin, Irlandia. Para pemenang itu terpilih dari seratusan peserta yang mendaftarkan blognya ke website www.guinness.com serta puluhan artikel media cetak yang dikirim penulisnya ke Guinness Indonesia.

Promosi yang dilakukan para blogger, bagi Herman, itu cukup unik. Apa yang mereka sampaikan tidak berbau komersial seperti halnya iklan. Mereka menyampaikan testimoni apa adanya. “Berbeda kalau kita sendiri yang ngomong, orang tidak mudah percaya. Tapi, orang lain di luar brand justru mempunyai kekuatan mempengaruhi yang besar. Sekarang, konsumen lebih percaya antarkonsumen sendiri. Mereka melakukan testimoni. Sedangkan kita propaganda brand,” imbuhnya.

Ada indikasi positif dengan pendekatan pada komunitas blogger ini. Tapi, kuncinya adalah konsistensi. “Kita tidak bisa tanam hari ini dan panen esok hari. Tapi, ini investasi ke tahun-tahun mendatang, asalkan kita konsisten melakukannya,” tandasnya.
Pendekatan pada para blogger tidak lepas dari salah satu strategi Guiness dalam mendekati pasar anak muda yang belakangan ini tampaknya getol digarap. “Strategi ini kita pakai mengingat anak-anak muda sekarang ini sangat kritis. Mereka tidak mudah percaya. Mereka lebih percaya kalau sudah mengalami sendiri. Lalu menularkan informasi ke teman-temannya. Konvensional marketing dengan menggunakan jargon-jargon sudah usang di sini,” katanya.

Sementara itu, pengamat komunikasi Silih Agung Wasesa, melihat tren menggandeng komunitas blogger ini sebagai upaya positif. Baginya, blogger selain sebagai konsumen juga sekaligus sebagai media. “Mereka mempunyai suara sendiri atas apa yang mereka alami dan rasakan. Mereka bisa menjadi titik-titik efektif dalam penyebaran informasi,” katanya. Silih juga melihat dengan basis web 2.o ini, konsumen lebih punya bargaining power. Soal keluhan, bagi Silih, tidak usah dianggap sebagai ancaman bagi perusahaan. “Perusahaan harus berani dan gesit merangkul mereka dan berupaya menyamakan persepsi antara perusahaan dan para blogger. Salah satu kiat untuk menggandeng mereka adalah mengadakan kegiatan yang memadukan antara kegiatan online dan offline, seperti kopi darat. Ini menjadi momen yang sangat bagus,” katanya.

Twitter pesat di Indonesia

Tingkat penetrasi jejaring sosial Twitter di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia, kata perusahaan pemasaran ComScore.
Menurut laporan Comsore, sekitar 20% pengguna internet di Indonesia mengunjungi situs Twitter.com pada bulan Juni disusul oleh Brasil dan Venezuela.
Namun pakar teknologi informasi dari ITB, Budi Rahardjo, meragukan bila dari segi pengguna Twitter maka Indonesia juga yang terbesar di dunia karena jumlah pengguna terbesar masih diduduki Amerika serikat.
Bagaimanapun Budi Rahardjo mengakui kalau Twitter memang populer di Indonesia.
"Kalau di Indonesia sekarang Twiter banyak digunakan untuk menceritakan status tetapi ada juga orang yang mulai sedikit banyak bercerita secara sepotong-potong dengan menggunakan Twitter. Kebanyakan menceritakan status dan opini unek-unek pribadi," kata Budi Rahardjo kepada BBC Indonesia.

Pergeseran

Sebagian besar pengguna internet di Indonesia mengakses internet dengan menggunakan telpon genggam sehingga memudahkan orang menggunakan media sosial seperti Twitter.
"Nah Twitter ini salah satu aplikasi yang ringkas sehingga kalau di telepon genggam sangat cepat dan mudah digunakan. Kemudian ada banyak aplikasi pendukung di telepon genggam. Sebagai contoh Blackberry sudah ada aplikasi built-in untuk Twitternya," tambah Rahardjo.
Menurut dosen ITB ini, fungsi telpon genggam di Indonesia telah mengalami pergesaran dari untuk panggilan suara menjadi alat komunikasi data khususnya bersosialisasi dengan jejaring sosial.
Salah satu pemilik telpon genggam yang mengaku aktif menggunakan Twitter adalah Cempaka, seorang mahasiswa di Jakarta.
"Apa yang saya lakukan saya tulis. Kadang-kadang keluh kesah, curhat di Twitter tetapi tidak secara vulgar," kata Cempaka.
Dia mengaku rata-rata menggunakan Twitter sepuluh kali sehari dengan biaya langganan data Rp 150.000 per bulan.

Bisnis daging halal marak di Prancis


Quick bersaing dengan McDonald di pasar burger Prancis
Quick bersaing dengan McDonald di pasar burger Prancis
Pasar produk halal, khususnya daging, tumbuh pesat di Prancis dalam beberapa bulan terakhir.
Pekan ini jaringan restoran hidangan siap saji, Quick, mengumumkan 22 dari restorannya kini akan menyuguhkan daging halal saja.
Quick merupakan jaringan restoran burger peringkat kedua di Prancis setelah McDonald.
Quick telah mengujicoba memasarkan daging halal di delapan restoran dalam sembilan bulan terakhir. Langkah itu mengundang kecaman dari beberapa politisi dan intelektual yang khawatir bahwa nilai-nilai sekuler Republik Prancis dikhianati.
Makanan halal sudah menjadi bisnis besar di Prancis, dan tumbuh pesat.
80% produk halal berbasis daging sama sekali tidak halal
Rachid Bakhalq
Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Eropa, sekitar enam juta jiwa, pasar produk halal bernilai 5,5 miliar euro, atau sekitar dua kali nilai pasar makanan organik.
Meski burger yang disajikan di Quick benar-benar halal, para pakar meragukan seberapa banyak yang dijual di tempat lain halal.
Rachid Bakhalq, pemilik supermarket halal di Nanterre, pinggiran utara kota Paris, mengatakan pasar dibanjiri produk palsu.
Dia mengatakan kepada BBC bahwa ''80% produk halal berbasis daging sama sekali tidak halal,'' katanya.
Ketika ditanya bukti yang dia miliki untuk mendukung pernyataannya, dia mengatakan di pasar grosir yang dia datangi di luar Paris, ''ada orang di sana yang siap memberikan stempel pada apa pun yang anda inginkan halal, hanya karena mereka punya uang dan mereka mengutip 15 sen per kilo hanya untuk membubuhkan stempel ke produk apa pun yang anda kehendaki distempel halal.''
Klaim semacam ini umumnya diakui oleh banyak warga Muslim.

Sistem tidak sempurna

Banyak konsumen menghendaki produk bersertifikat halal
Semakin banyak konsumen di Eropa membeli produk halal
Abbas Bendali, seorang ahli pemasaran yang mengkhususkan diri pada produk etnis dan minoritas, mengatakan masalahnya adalah bahwa ada begitu banyak organisasi yang terlibat dalam sertifikasikan produk halal.
''Di Prancis hari ini, ada hampir 50 organisasi yang mengeluarkan sertifikasi daging halal,'' ujar Bendali.
''Masuk akal bahwa untuk pasar yang akan bernilai 5,5 miliar euro pada tahun 2010, mestinya hanya ada satu sertifikasi. Itulah yang dikehendaki konsumen, dan itulah yang dikehendaki industri,'' ujarnya.
Di Prancis hari ini, ada hampir 50 organisasi yang mengeluarkan sertifikasi daging halal
Abbas Bendali
Para pejabat di beberapa masjid di Paris mengatakan bahwa dengan sumber daya terbatas dan beragam organisasi yang terlibat, sulit untuk memastikan bahwa ada tenaga berkualifikasi bertugas sepanjang waktu untuk memantau semua hewan yang disembelih sesuai dengan ketentuan ketat makanan Islami,'' katanya.
Kamel Kabtane, pimpinan sebuah masjid besar di Lyon, dan bertanggungjawab atas isu halal di Dewan Muslim Prancis, mengatakan kepada koran Le Parisien bahwa pemeriksaan tidak cukup ketat untuk 40-50% produk yang dijual dengan labael halal Prancis.
Dewan itu berniat memperkenalkan piagam nasional yang akan ditandatangani seluruh masjid dan organisasi yang terlibat dalam sertifikai daging halal.

Perusahaan rokok gunakan YouTube

Industri tembakau mungkin menggunakan situs-situs seperti YouTube untuk menghindari larangan menayangkan iklan rokok, demikian hasil sebuah studi.

Para peneliti di Selandia Baru mempelajari situs berbagi video YouTube dan menemukan sejumlah video pro-rokok "yang konsisten dengan kegiatan pemasaran tidak langsung oleh perusahaan-perusahaan rokok atau wakil-wakil mereka".

Mereka mengatakan berbagai pemerintah seharusnya mempertimbangkan untuk mengatur isi seperti itu di situs internet.

Perusahaan-perusahaan rokok selalu membantah bahwa mereka menggunakan internet untuk mempromosikan rokok.

"Perusahaan-perusahaan tembakau sangat diuntungkan oleh potensi pemasaran dari Web 2.0, tanpa dianggap melanggar hukum ataupun aturan-aturan periklanan," tulis para peneliti itu.

Amanda Sandford, manajer riset dalam grup anti-merokok Action on Smoking and Health (Ash) mengatakan bahwa temuan studi ini "sangat disayangkan tetapi memang biasa dilakukan oleh industri rokok".

"Begitu satu jalur promosi ditutup, berbagai perusahaan rokok mencari cara-cara alternatif untuk memasarkan produk-produk mereka dan akan melakukan apa saja untuk mengakali pembatasan-pembatasan beriklan yang berlaku," jelas Amanda kepada BBC News.

"Itu mengisyaratkan bahwa pasar mereka adalah kaum muda. Diperlukan pengawasan yang lebih ketat atas apa yang muncul di internet."

Tetapi Catherine Armstrong, jurubicara British American Tobacco, salah satu perusahaan yang diteliti dalam laporan ini, mengatakan "bukan kebijakan kami untuk menggunakan situs jejaring sosial seperti Facebook atau YouTube untuk mempromosikan merek-merek rokok".

"Bahkan peneliti laporan ini tidak mengklaim bahwa kami melakukan itu," tambah dia. "Menggunakan media sosial bisa melanggar aturan periklanan dan Standar Pemasaran Internasional kami sendiri, yang berlaku bagi perusahaan kami di seluruh dunia."

"Para pegawai kami, badan-badan dan penyedia layanan kami tidak pernah boleh menggunakan media sosial untuk mempromosikan merek-merek tembakau."

Beberapa perusahaan rokok menandatangani kesepakatan sukarela untuk membatasi iklan secara langsung di situs-situs internet pada tahun 2002.

YouTube mengatakan pihaknya tidak pernah "menerima iklan-iklan rokok yang dibayar dimanapun di dunia".

Kehadiran merek

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Tobacco Control terfokus pada YouTube, situs berbagi rekaman video yang terbesar di internet. YouTube setiap hari ditonton oleh lebih dari satu miliar orang.

Para peneliti itu menyelidiki lima merek rokok dan menganalisa 20 halaman pertama rekaman video yang berisi rujukan terhadap berbagai perusahaan rokok. Isi rekaman video yang diteliti itu sudah diunggah oleh para pengguna YouTube.

Mereka menganalisa 163 clip video, dan 20 diantaranya "diproduksi dengan sangat profesional", kata para peneliti ini.

"Sangat menyedihkan melihat bahwa beberapa dari rekaman video yang pro-tembakau itu sangat profesional standarnya, banyak diantara video ini menampilkan logo merek rokok atau musik iklan rokok yang mungkin hak ciptanya dimiliki oleh beberapa perusahaan rokok, tetapi tidak dicabut dari rekaman itu," kata para peneliti.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki hak cipta atas material yang diunggah di YouTube bisa meminta agar rekaman itu dicabut. Para pengguna YouTube juga bisa memasang tanda bendera yang ditujukan kepada Google- pemilik YouTube- bahwa rekaman itu "tidak pantas".

"YouTube adalah situs komunitas dengan kebijakan-kebijakan yang jelas bahwa melarang isi yang tidak pantas," kata jurubicara YouTube.

"Kebijakan-kebijakan ini tidak mengizinkan isi apapun yang ilegal, ataupun material yang memperlihatkan anak-anak dibawah usia merokok. Komunitas kami paham aturan dan kebijakan soal material yang tidak pantas."

Penelitan film

Merokok Hampir tiga perempat dari isi rekaman-rekaman video yang diteliti digolongkan sebagai "pro-rokok" dan tak sampai empat persen yang tergolong "anti-rokok".

Merek yang paling dominan di YouTube adalah Marlboro, kata para peneliti itu.

"Kehadiran merek Marlboro yang tinggi di YouTube bisa jadi karena Marlboro dipasarkan secara lebih efektif dibandingkan merek-merek lain dan karena itu jadi lebih populer dan atau karena penempatan video di YouTube punya insentif secara komersil," tulis hasil penelitian ini.

Ken Garcia, jurubicara produsen Marlboro yaitu Philip Morris USA mengatakan perusahaannya tidak "memasarkan merek rokok di YouTube".

"Kami di masa lalu meminta YouTube untuk mencabut material di situs itu yang kami anggap melanggar hak-hak kekayaan intelektual kami," kata Garcia kepada BBC News.

Google belum berhasil dimintai konfirmasi apakah mereka juga pernah dikontak oleh Philip Morris USA.

Banyak dari klip-klip video yang diteliti mengandung gambar-gambar orang yang merokok produk merek tertentu atau gambar-gambar yang diasosiasikan dengan merek tertentu.

Banyak juga video yang memasukkan merek rokok dalam judul video mereka.

Para peneliti mengatakan temuan mereka mengisyaratkan bahwa berbagai pemerintah harus memperluas "batasan iklan rokok yang berlaku sekarang, sehingga memasukan Web 2.0".

Penelitian ini dilakukan oleh Dr Thomson bersama Lucy Elkin dan professor Nick Wilson dari Universitas Otago, Wellington, Selandia Baru.

Titik Terlemah Bisnis Franchise di Indonesia

Bisnis franchise saat ini tengah menjadi model bisnis paling popular di negeri ini. Laiknya sebuah mode, system bisnis franchisepun banyak diperbincangkan di mana-mana. Seseorang yang baru mendirikan bisnis resto, terlintas untuk segera memfranchisekan bisnisnya. Begitu juga dengan pebisnis bengkel, pijat refleksi, hingga software komputer. Hampir dipastikan, semua sedang berfikir bisnis apa lagi yang dapat difranchisekan. 

Meski hal ini bukan sebuah kekonyolan, tetapi masyarakat pebisnis hendaknya menyadari bahwa sebuah bisnis dapat difranchisekan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Bukan mengikuti kelatahan belaka. Syarat tersebut, menurut buku Franchising the Most Practical and Excellent Way of Succeding : Membedah Tawaran Franchise Lokal Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama tulisan Bambang N. Rachmadi, franchisee outlet McD di Indonesia ini, menyebutkan bahwa franchise merupakan sebuah system bisnis atau usaha yang telah terstandar secara baku dan teruji kesuksesannya. Lalu system ini dijual lisensinya ke pihak lain dengan imbalan fee kepada pemilik system tersebut. 

Ingat, dalam difinisi di atas ada kalimat yang sengaja diberi penekanan, yaitu teruji kesuksesannya. Bambang N Rachmadi bahkan mendefiniskan secara khusus, bahwa sebuah bisnis difranchisekan karena memiliki kinerja unggul karena didukung oleh sumberdaya berbasis pengetahuan dan orientasi kewirausahaan yang cukup tinggi dengan tata kelola yang baik, yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dengan melakukan hubungan kontraktual untuk menjalankan bisnis di bawah format bisnisnya dengan imbalan yang disepakati. Uraian di atas jelas memberikan gambaran khusus mengapa sebuah bisnis difranchisekan, yaitu memiliki reputasi sukses, memiliki standar secara baku baik pengelolaan maupun prosedur layanannya. Lantas apakah para pebisnis cukup memahami syarat-syarat tersebut dan memahami kriterianya? 

Menangkap dengan Tenang 


Banyaknya pameran bisnis, maupun iklan-iklan yang menawarkan bisnis franchise kepada masyarakat harus disikapi dengan upaya edukasi yang optimal terhadap pelaku bisnis franchise, baik kepada franchisor maupun franchisee. Lembaga terkait seperti Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), konsultan bisnis franchise, dan lembaga pendukung lainya, termasuk didalamnya peran pemerintah yang terkait, harus semakin menyadari bahwa bisnis franchise yang hadir tengah masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Masalahnya adalah apakah ada aturan yang kompatibel untuk mengaturnya? Apakah masyarakat pebisnis sudah teredukasi dengan baik, undang-undangnya memadai, serta ada iklim kondusif yang membuat system bisnis franchise dapat berkembang dan tumbuh seperti yang diharapkan. Ibarat menangkap ikan, para pebisnis harus tetap tenang menangkapnya, dengan keadaan sadar dan penuh perhitungan. 


Angin Segar 

Kehadiran system bisnis franchise disisi lain telah memberikan angin segar bagi tumbuhnya ekonomi baru karena adanya duplikasi system bisnis yang memungkinkan sebuah system bisnis dapat berkembang secara cepat dalam waktu yang relative pendek. Lihatlah bagaimana McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Wendy’s. Atau brand lokal seperti RM Padang Sederhana, Bakmi Japos, Ayam Bakar Wong Solo, Es Teler 77, Alfamart, Indomart, dan ratusan merek lokal lainnya yang telah berkembang dan berbiak menjadi menggurita dengan system bisnis ini dalam waktu singkat ke seluruh tempat. 


Banyak pihak berpendapat, kelebihan system bisnis ini memungkinkan seseorang yang ingin berbisnis serupa tidak usah terlalu repot-repot menjalani proses trial and error yang dijalani bertahun-tahun dan dengan biaya yang tidak sedikit. Tetapi pihak lain mengungkapkan argumentasinya bahwa untuk menggunakan system bisnis franchise pada sebuah produk atau merek harus teruji kehandalanya. Seberapa jauh keandalan dan reputasi itu, waktu yang menentukan. Bukan dua, tiga atau lima tahun, yang merupakan waktu-waktu yang pendek untuk rentang sebuah usaha disebut teruji kehandalannya.

Apapun, kesadaran masyarakat memahami bisnis franchise lebih penting agar sinergi diantara franchisor dan franchise dapat saling menguntungkan dikemudian hari. Para franchisorpun tidak serta merta menginginkan usahanya berbiak dengan mengabaikan syarat untuk menetapkan franchisee yang baik. Syarat tersebut diantaranya adalah menetapkan bahwa franchisee juga harus memiliki kreatifitas dan inovatif yang didasari semangat kewirausahaan dalam menjalankan bisnisnya, dan harus tunduk pada kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh franchisor. 
Tujuannya agar standarisasi merek bisa tetap terjaga. Jangan sampai ada sebuah upaya seseorang yang memfranchisekan bisnisnya tetapi ia sendiri masih harus berjuang bagi keberlangsungan bisnis yang dijalankannya. Jangankan tentang support bisnis, SOP, atau standarisasi, dan sebagainya, masih banyak pebisnis yang produknya masih belum teruji dan belum memiliki reputasi bisnis tetapi sudah berani menjualnya dengan system franchise. Tentu itu sah-sah saja, dan inilah titik terlemah system bisnis franchise di Indonesia.

Entri Populer

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme