Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Social Media Top Priority for PR in 2011

More than two-thirds (67%) of senior-level public relations (PR) professionals say their companies are now engaging in social media on some level and 69% say social media will be a top priority for PR in 2011, according to a survey from Vocus. Fully 80% of PR professional say social media will be more important in the coming year.
Surveyed PR professionals say social media is maturing in their companies:
  • 25% say their companies contribute value via social media content.
  • 23% are sharing brand-related stories via social channels.
  • 19% are participating in social conversations.
Another 17% of companies are listening to social media conversations, and 7% respond only when necessary.
Below, other findings from the report titled Social Media Comes of Age: The Vocus 2010 Planning Survey.
Organizations of all sizes are expressing confidence with social media.
Larger organizations (annual revenues of $750 million to $1 billion) are the most confident: 50% say they are creating value via content creation.* Small ($1-5 million) and mid-sized businesses ($6-50 million) follow in confidence levels, 28% and 29%, respectively.
The Marketing Mix in 2011
In 2011, social media will be a top priority for PR professionals, followed by strategic communications (66%) and measurement (61%).
Meanwhile, 76% of companies will spend either the same or less on traditional media relations, and 65% will spend the same or less on community relations and corporate philanthropy.

Looking for real, hard data that can help you match social media tools and tactics to your marketing goals? The State of Social Media Marketing, a 240-page original research report from MarketingProfs, gives you the inside scoop on how 5,140 marketing pros are using social media to create winning campaigns, measure ROI, and reach audiences in new and exciting ways.

Marketing More Challenging
Six in ten PR professionals (60%) say PR will be more challenging in 2011. Budgets are cited as the top reason (37%), followed by a variety of options (22%), social media (19%), and rapid change (19%). Only 14% cite the economy as their top challenge.
Moreover, marketing budgets are expected to improve in 2011: 42% of PR professionals say they expect budgets to "increase somewhat" or "increase significantly" over 2010 levels, compared with the 29% who said so a year earlier.
Roughly 20% say budgets are "decreasing somewhat" or "decreasing significantly" in 2011, compared with the 29% who said so a year earlier.
SEO and ad professionals are the most optimistic about their budgets in the coming year: 27% of search and SEO professionals expect their budgets to increase significantly in 2011, as do 25% of advertising professionals. Only 7% of PR and marketing professional are expecting such increases.
PR's Role in Marketing Mix
PR's role is gaining in importance: 63% of PR professionals say PR will be more important to the marketing mix in 2011, and 31% say it will remain the same. Some 5% say PR's role will be less important in 2011.
PR and marketing are working together on social efforts: 23% of PR professionals say marketing is leading social media efforts, while PR contributes, whereas 22% say PR is leading social media efforts with several other departments contributing.
* The participation was not necessarily proportionate to the budget (or funding for a program) based on the size of the company's earnings.
About the data: Findings are from a survey of 508 senior-level public relations professionals from Oct.26, 2010 to Nov. 21, 2010


Mengintip Peluang Bisnis Media Cetak di iPad

Beberapa pengamat memprediksi bahwa iPad bakal menggantikan koran atau majalah di masa depan. Dilihat dari sisi produksi, jelas bahwa teknologi paperless ini lebih efektif ketimbang kertas yang harus didaur ulang.

Sementara dilihat dari sisi ergonomisnya, jelas pembaca di masa depan tak perlu menumpuk koran atau majalah usang lagi di gudang. Dari sisi kepraktisan, benda berukuran 9,7 inchi ini juga lebih enak dijinjing kemana-mana, dibanding koran atau majalah.

Beberapa taipan media luar sudah memiliki rencana bisnis sendiri. Idenya sederhana, hanya memindahkan konten dari koran atau majalah mereka ke iPad. Sisi pemasaran pun telah berubah. Dari kios nyata menjadi 'kios online', dari ngecer menjadi download. Sukseskah model bisnis baru ini?


GQ, Majalah iPad Pertama Terjual 365 Kopi

GQ adalah salah satu dari majalah pertama yang muncul di iPad. Di App Store, GQ dijual seharga US$ 2.99. Harga tersebut jauh lebih murah ketimbang versi 'fisik' nya yang dibanderol US$ 4.99.

"Dengan harga ini, kami tak membutuhkan biaya ekstra. Tak ada biaya cetak atau pengiriman," ujar Pete Hunsinger, Vice President serta penerbit GQ, seperti dikutip detikINET dari Apple insider, Selasa (18/5/2010).

"Semua ini berujung pada profit, saya melihat visi ke depan, bahwa iPad bakal menjadi komponen utama bagi sirkulasi kami," tambahnya.

Walau angka penjualan GQ masih dirasa rendah, namun Hunsinger percaya model bisnis ini ke depannya bakal menguntungkan. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa pengiklan yang terus bertambah di GQ.

Benar saja, pada bulan Mei 2010 ini penjualan GQ meningkat tajam. Berkembang isu bahwa majalah tersebut bakal menjadi best-seller di App Store nantinya. Dari kasus GQ ini dapat dilihat bahwa untuk mencapai keuntungan, penerbit harus bisa bersabar menunggu respon positif dari pasar. Saat publik sudah 'terjerat', di situlah uang mengalir. Penerbit pun tinggal menunggu sembari senyam-senyum melihat jumlah unduhan yang terus bertambah.


Apakah Media Cetak Harus Beralih ke iPad?

Perlahan-lahan nantinya selera konsumen pun bakal berubah. Seiring hal ini, pertanyaan baru muncul, apakah media cetak harus mengikuti model bisnis baru tersebut? Tentu jawabannya bisa bervariasi, tergantung konteksnya.

Menanggapi hal ini, ada baiknya menengok konvergensi teknologi yang telah dilakukan beberapa media asing. Sekitar sebulan lalu, ABC memperkenalkan aplikasi mereka di iPad. Tak lama setelah itu aplikasi mereka laris dengan jumlah pengunduh lebih dari 200.000.

Di awal bulan ini, Taipan Media Rupert Murdoch tengah menikmati hasil dari model bisnis ini. Pasalnya aplikasi iPad Wall Street Journal (WSJ) miliknya, kini memiliki lebih dari 64.000 pembaca. Sebagai informasi, kedua contoh aplikasi berita tersebut saat ini masih gratis.

Fakta-fakta di atas telah membuktikan bahwa pasar ternyata menerima dengan baik model bisnis baru ini. Walaupun terasa lambat, namun prospek model bisnis media paperless ini dipandang cerah ke depannya.

Sayangnya belum ada penelitian yang disiarkan di media terkait efektifitas iPad dibanding koran atau majalah, dilihat dari selera pasar, efektifitas sirkulasi, serta biaya produksinya. Kita tunggu saja, apakah pelaku bisnis media cetak lokal juga bakal melirik iPad? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Twitter: Indonesia nomor tiga di dunia

Bill Gates di Twitter Setelah tercatat sebagai pemakai Facebook terbesar kedua di dunia, Indonesia kini menjadi pemakai terbesar ketiga Twitter setelah AS dan Jepang.

Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset internet yang berkantor di Paris, Semiocast, yang diterbitkan hari Senin (05/7).

Penelitian ini menunjukkan bahwa Asia sekarang mengambil alih posisi AS sebagai kawasan yang paling aktif di dunia dalam menggunakan Twitter.

Angka-angka yang dikumpulkan Semiocast memperlihatkan pengguna Asia saat ini mengirimkan 37% dari 96 juta pesan pendek, atau tweet, di seluruh dunia setiap hari.

Kiriman pesan dari pemakai di Amerika Utara hanya 31% dari total per hari, menurun dari 36% tiga bulan lampau. Pangsa Asia meningkat dari 31,5% pada bulan Maret.

Pemicu popularitas

Menurut Semiocast, penyebaran telefon model terbaru di Asia dan layanan bahasa Jepang oleh Twitter diduga ikut berperan dalam peningkatan jumlah pengguna jejaring sosial mirko itu.

Di Korea, situs jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook mulai populer setelah pemasaran iPhone Apple tahun lalu. Kemudian, distribusi telefon canggih buatan lokal seperti Samsung, LG dan alat-alat teknologi canggih lainnya membuat situs itu lebih populer lagi.

Layanan bahasa Jepang di Twitter dimulai pada tahun 2008. Penggunaan bahasa Jepang inilah yang membuat situs itu menjadi booming di negara ini, kata para analis. Mereka mengatakan, pengenalan huruf Jepang adalah faktor utama popularitas jejaring sosial tersebut.

Konferensi Twitter Ketika Jepang bertanding melawan Denmark pada pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan belum lama ini, sebanyak 3.283 pesan dikirimkan setiap detik melalui Twitter bahasa Jepang, menurut persuahan riset Nielsen Company.

Sekarang ini, semakin banyak selebriti dan politisi serta perusahaan yang mengirimkan pesan pendek ke para pengikut mereka.

Di seluruh dunia ada 150 juta pelanggan Twitter, dan rata-rata 330.000 pengguna internet mendaftarkan diri sebagai anggota baru, tiap hari.

Dalam urutan dunia, Amerika Serikat masih berada di urutan pertama sebagai pengguna Twitter, diikuti oleh Jepang, Indonesia, Brazil dan Inggris. Korea Selatan di posisi ketujuh.

Untuk peringkat Asia, Jepang paling banyak mengirimkan tweet, diikuti oleh Indonesia, Korea dan India.

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN


ANALISIS STRATEGI PEMASARAN

Strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan serta aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran dari waktu ke waktu pada masing-masing tingkatan serta lokasinya. Strategi pemasaran modern secara umum terdiri dari tiga tahap yaitu: segmentasi pasar (segmenting), penetapan pasar sasaran (targeting), dan penetapan posisi pasar (positioning) (Kotler, 2001). Setelah mengetahui segmen pasar, target pasar, dan posisi pasar maka dapat disusun strategi bauran pemasaran (marketing mix) yang terdiri dari strategi produk, harga, penyaluran/ distribusi dan promosi (Assauri, 1999).

A.  Segmentasi Pasar (Segmenting)

Secara umum, terdapat tiga falsafah dasar sebagai pedoman bagi perusahaan untuk mendekati pasar, yakni pemasaran masal dimana keputusan untuk memproduksi dan mendistribusi produk secara masal, pemasaran berbagai produk yang menyajikan pilihan produk berbeda untuk segmen berbeda, dan pemasaran terarah yang mengembangkan produk untuk pasar yang spesifik.
1. Pemasaran masal, di mana para penjual memproduksi secara masal, mendistribusikan secara masal, dan mempromosikan secara masal satu produk kepada semua pembeli. Pemikirannya, bahwa biaya produksi dan harga menjadi murah dan dapat menciptakan pasar potensial paling besar.
2. Pemasaran berbagai produk, di mana penjual memproduksi dua macam produk atau lebih yang mempunyai sifat, gaya, mutu, ukuran dan sebagainya yang berbeda. Pemikirannya, bahwa konsumen memiliki selera berbeda yang berubah setiap waktu, dan selalu mencari variasi serta perubahan.
3. Pemasaran terarah, di sini penjual mengenali berbagai segmen pasar, memilih satu atau beberapa di antaranya, dan mengembangkan produk serta bauran pemasaran yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing konsumen.

Produsen atau perusahaan modern, kini menjauhi pemasaran masal dan pemasaran berbagai produk, dan mendekati pemasaran terarah. Penjual dapat mengembangkan produk yang tepat untuk setiap pasar sasaran dan menyesuaikan harga, saluran distribusi, dan iklannya untuk mencapai pasar sasaran secara efisien.
Dengan menggunakan pemasaran terarah, yang semakin dekat dengan bentuk pemasaran mikro, perusahaan menyesuaikan program pemasaran pada kebutuhan dan keinginan dari segmen geografik, demografik, psikografik, atau tingkah laku, yang telah ditentukan secara sempit. Bentuk akhir dari pemasaran terarah adalah pemasaran yang disesuaikan, yaitu bila perusahaan menyesuaikan produk dan program pemasaran pada kebutuhan pelanggan secara spesifik.
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen (Kotler, 2001). Dengan kata lain, segmentasi pasar adalah kegiatan membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang terbedakan dengan kebutuhan, karakteristik, atau tingkah laku berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran terpisah.
Perusahaan membagi pangsa pasar ke dalam segmen-segmen pasar tertentu di mana masing-masing segmen tersebut bersifat homogen. Perbedaan keinginan dan hasrat konsumen merupakan alasan yang utama untuk diadakannya segmentasi pasar. Jika terdapat bermacam-macam hasrat dan keinginan konsumen, maka perusahaan dapat mendesain suatu produk untuk mengisi suatu heterogenitas keinginan dan hasrat tersebut. Dengan demikian dapat berkreasi dengan suatu penambahan penggunaan yang khusus untuk konsumen dalam segmen yang diinginkan. Konsumen akan mau membayar lebih tinggi terhadap produk yang mereka butuhkan bila mereka menerima berbagai keuntungan dari produk tersebut.
Perusahaan atau para penjual mengklasifikasikan beberapa kelompok sasaran segmen pemasaran, yakni segmentasi pasar konsumen, segmentasi pasar industri, dan segmentasi pasar internasional. Kelompok segmen pasar tersebut memiliki karakteristik berbeda, sehingga memerlukan cara tersendiri untuk menanganinya.

Membuat Segmentasi Pasar Konsumen

Tidak ada cara tunggal untuk membuat segmen pasar. Pemasar harus mencoba variabel segmentasi yang berbeda, secara sendiri atau kombinasi untuk mencari cara terbaik untuk memetakan struktur pasar. Terdapat beberapa variabel utama yang sering digunakan untuk menentukan segmentasi pasar, yakni variabel geografik, demografik, psikografik, dan tingkah laku tertentu.

1. Segmentasi Geografik
Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara, regional, propinsi, kota, wilayah kecamatan, wilayah kelurahan dan kompleks perumahan. Sebuah perusahaan mungkin memutuskan untuk beroperasi dalam satu atau beberapa wilayah geografik ini atau beroperasi di semua wilayah tetapi tidak memperhatikan kebutuhan dan keinginan psikologis konsumen.
    Banyak perusahaan dewasa ini “merigionalkan“ program           pemasaran produknya, dengan melokalkan produk, iklan, promosi dan usaha penjualan agar sesuai dengan kebutuhan masingmasing regional, kota, bahkan kompleks perumahan.



2. Segmentasi Demografi
    Segmentasi pasar demografik membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti jenis kelamin, umur, status perkawinan, jumlah keluarga, umur anak, pendapatan, jabatan, lokasi geografi, mobilitas, kepemilikan rumah, pendidikan, agama,
ras atau kebangsaan. Faktor-faktor demografik ini merupakan dasar paling populer untuk membuat segmen kelompok konsumen.
Alasannya utamanya, yakni kebutuhan konsumen, keinginan, dan mudah diukur. Bahkan, kalau segmen pasar mula-mula ditentukan menggunakan dasar lain, maka karakteristik demografik pasti diketahui agar mengetahui besar pasar sasaran dan untuk menjangkau secara efisien.
a. Umur dan Tahap Daur Hidup
Perusahaan menggunakan segmentasi umur dan daur hidup, yakni menawarkan produk berbeda atau menggunakan pendekatan pemasaran yang berbeda untuk kelompok umur dan daur hidup berbeda. Misalnya, beberapa perusahaan makanan ringan “ciki” membuat produknya untuk konsumsi kaum anak-anak dan remaja.
b. Jenis Kelamin
Perusahaan menggunakan segmentasi jenis kelamin untuk memasarkan produknya, misalnya pakaian, kosmetik, dan majalah. Banyak perusahaan kosmetika, yang mengembangkan produk parfum yang hanya ditujukan kepada para wanita atau kaum pria.
    c.  Pendapatan
Pemasar produk telah lama menggunakan pendapatan menjadi segmentasi pemasaran produk dan jasanya, seperti mobil, kapal, pakaian, kosmetik dan jasa transportasi. Banyak perusahaan membidik konsumen kaya dengan barang-barang mewah dan jasa yang memberikan kenyamanan dan keselamatan ekstra, sebaliknya ada beberapa perusahaan kecil yang membidik konsumen dengan level social-ekonomi menengah ke bawah.
    d.  Segmentasi Demografik Multivariasi
Perusahaan banyak yang mensegmentasi pasar dengan menggabungkan dua atau lebih variabel demografik. Misalnya, suatu pemasaran produk yang segmentasi pasarnya diarahkan pada umur dan jenis kelamin.

3. Segmentasi Psikografik
Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada karakteristik kelas sosial, gaya hidup atau kepribadian. Dalam kelompok domografik, orang yang berbeda dapat mempunyai ciri psikografik yang berbeda.
a. Kelas Sosial
Kelas sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada pemilihan jenis mobil, pakaian, perabot rumah tangga, properti, dan rumah. Pemasar menggunakan variabel kelas sosial sebagai segmentasi pasar mereka.
b. Gaya Hidup
Minat manusia dalam berbagai barang dipengaruhi oleh gaya hidupnya, dan barang yang mereka beli mencerminkan gaya hidup tersebut. Atas dasar itu, banyak pemasar atau produsen yang mensegmentasi pasarnya berdasarkan gaya hidup konsumennya. Sebagai misal, banyak produsen pakaian remaja yang mengembang-kan desain produknya sesuai dengan selera dan gaya hidup remaja.
c. Kepribadian
Para pemasar juga menggunakan variabel kepribadian untuk mensegmentasi pasar, memberikan kepribadian produk mereka yang berkaitan dengan kepribadian konsumen. Strategi segmentasi pasar yang berhasil berdasarkan pada kepribadian telah dipergunakan untuk produk seperti kosmetik, rokok, dan minuman ringan.

4. Segmentasi Tingkah Laku
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar meyakini bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
a. Kesempatan
Segmentasi kesempatan membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan kesempatan ketika pembeli mendapat ide untuk membeli atau menggunakan barang yang dibeli. Pembeli dapat dikelompokkan menurut kesempatan ketika mereka mendapat ide untuk membeli, benar-benar membeli, atau menggunakan barang yang dibeli. Segmentasi kesempatan dapat membantu perusahaan meningkatkan pemakaian produknya.
Sebagai misal, Kodak menggunakan segmentasi kesempatan untuk merancang dan memasarkan kamera sekali pakai. Konsumen hanya perlu memotrek dan mengembalikan film, kamera, dan semuanya, untuk diproses. Dengan menggabungkan lensa, kecepatan film, dan peralatan tambahan yang lain. Kodak mengembangkan kamera versi khusus untuk hampir segala macam kesempatan, dari fotografi bawah air sampai memotret bayi.
b. Manfaat yang Dicari
Salah satu bentuk segmentasi yang ampuh adalah mengelompokkan pembeli menurut manfaat yang mereka cari dari produk. Segmentasi manfaat membagi pasar menjadi kelompok menurut beragam manfaat berbeda yang dicari konsumen dari produk. Segmentasi manfaat menuntut ditemukannya manfaat utama yang dicari orang dalam produk, jenis orang yang mencari setiap manfaat, dan merek utama yang mempunyai manfaat.
Perusahaan dapat menggunakan segmentasi manfaat untuk memperjelas segmen manfaat yang mereka inginkan, karakteristiknya, serta merek utama yang bersaing. Mereka juga dapat mencari manfaat baru dan meluncurkan merek yang memberikan manfaat itu.
c. Status Pengguna
Pasar dapat disegmentasi menjadi kelompok bukan pengguna, mantan pengguna, pengguna potensial, pengguna pertama kali, danpengguna regular dari suatu produk. Pemimpin pemasaran akan memfokuskan pada cara menarik pengguna potensial, sedangkan perusahaan yang lebih kecil akan memfokuskan pada cara menarik pengguna saat ini agar meninggalkan pimpinan pemasaran.
d. Tingkat Pemakaian
Dalam segmentasi tingkat pemakaian, pasar dapat dikelompokkan menjadi kelompok pengguna ringan, menengah dan berat. Jumlah pengguna berat seringkali hanya sebagian kecil dari pasar, tetapi menghasilkan persentase yang tinggi dari total pembelian.
Pengguna produk dibagi menjadi dua bagian sama banyak, yakni separuh pengguna ringan, dan separuh pengguna berat, menurut tingkat pembelian dari produk spesifik. Sebagai contoh, ditunjukkan bahwa sejumlah 41% rumah tangga yang disurvai membeli bir, sebesar 87% pengguna berat peminum bir (hampir tujuh kali lipat dari pengguna ringan).
e. Status Loyalitas
Sebuah perusahaan dapat disegmentasikan berdasarkan loyalitas konsumen. Konsumen dapat loyal terhadap merek, toko dan perusahaan. Pembeli dapat dibagi beberapa kelompok menurut tingkat loyalitas mereka. Beberapa konsumen benar-benar loyal(membeli selalu membeli satu jenis produk), kelompok lain agak loyal (mereka loyal pada dua merek atau lebih dari suatu produk, atau menyukai satu merek tetapi kadang-kadang membeli merek yang lain).
Pemasar harus berhati-hati ketika menggunakan loyalitas merek dalam strategi segmentasinya. Pola pembelian yang loyal pada merek ternyata mencerminkan sebagai kebiasaan, sikap acuh tak acuh, harga yang rendah atau daftar yang telah tersedia.

Membuat Segmentasi Pasar Industri

Tahapan penentuan segmentasi industri pada umumnya, pertama memilih dan menentukan industri yang dilayani; dalam industri terpilih, para pemasar bisa mensegmentasi berdasarkan ukuran pelanggan dan lokasi geografik; lebih lanjut segmentasi dapat difokuskan berdasarkan pendekatan atau kriteria pembelian.
Basis segmentasi untuk pasar industrial adalah aspek geografis, demografis, faktor situasional, dan karakteristik-karakteristik personal.
1.       Geografis (wilayah, sentra industri dan perdagangan).
2.       Demografis (jenis industri, kapasitas atau luas produksi).
3.       Variabel operasional (tingkat teknologi, pola konsumsi, kapabilitas dan kebutuhan pelanggan).
4.       Pendekatan pembelian (tingkat wewenang bagian pembelian, struktur wewenang, kebijakan pembelian, kriteria pembelian).
5.       Faktor situasional (tingkat kepentingan, penggunaan, tingkat pemesanan).
6.       Karakteristik personal (kesamaan pembeli-penjual, sikap terhadap resiko, tingkat loyalitas terhadap pemasok).

Membuat Segmentasi Internasional

Perusahaan dapat mensegmentasi pasar internasional dengan menggunakan satu variabel atau suatu kombinasi dari beberapa variabel. Segmentasi dapat dilakukan berdasarkan lokasi geografik, yakni mengelompokkan negara menurut regional, seperti Eropa Barat, Sekitar Pasifik, Timur Tengah, atau Afrika, atau Negara-negara yang sudah diorganisasikan secara geografis menjadi kelompok pasar, atau “zona perdagangan bebas,” seperti Uni Eropa, Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa, atau Asosiasi perdagangan bebas Amerika Utara. Segmentasi geografik ini menganggap bahwa bangsa yang hidup berdampingan mempunyai banyak sifat dan tingkah laku yang sama.
Pasar internasional dapat juga disegmentasikan berdasarkan faktor-faktor ekonomi. Misalnya, negara-negara dapat dikelompokkan menurut tingkat pendapatan penduduk atau menurut tingkat perkembangan ekonomi secara keseluruhan, seperti negara Kelompok Tujuh, yakni Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Kanada dan Italia yang memiliki industri telah mantap. Selain itu, negara-negara dapat juga disegmentasi berdasarkan faktor-faktor politik dan peraturan, seperti tipe dan stabilitas pemerintahan, penerimaan terhadap perusahaan asing, peraturan moneter, dan jumlah birokrasi. Faktor-faktor budaya, dapat juga dipergunakan, pengelompokan pasar berdasarkan pada bahasa, pengelompokkan pasar berdasarkan pada bahasa, agama, nilai-nilai dan sikap, kebiasaan dan pola tingkah laku bersama. Mensegmentasi pasar internasional mengganggap bahwa segmen tersebut terdiri atas faktor-faktor geografi, ekonomi, politik, dan budaya lain, yang menganggap bahwa segmen tersebut terdiri atas kumpunan negara.

Proses Segmentasi Pasar

Proses segmentasi mempunyai beberapa langkah. (1) identifikasi basis segmentasi pasar, (2) mengumpulkan informasi pasar, (3) mengembangkan komposisi profil segmen, (4) penetapan konsekuensi pemasaran, (5) estimasi masing-masing potensi segmen pasar, (6) analisis peluang pasar, dan (7) penetapan penguasaan pasar.
Langkah-langkah proses segmentasi pasar tersebut dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut:

Pentingnya Melakukan Segmentasi
Segmentasi pasar diperlukan karena :
1.       Peusahaan dapat lebih baik memahami perilaku segmen-segmen pasar yang lebih homogen sehingga dapat lebih baik dalam melayani kebutuhan-kebutuhan mereka. Program pemasaran dapat lebih diarahkan sesuai dengan perilaku dan kebutuhan masing-masing segmen pasar.
2.       Apabila pasar terlalu luas dan berperilaku sangat beragam, perusahaan dapat memilih satu atau beberapa segmen pasar saja. Sehingga kapasitas pasar dapat lebih sesuai dengan luas segmen-segmen pasar yang terbentuk.
3.   Pasar bersifat dinamis, tidak statis, yang berarti bahwa pasar berkembang terus yang ditandai dengan perubahan-perubahan seperti sikap, siklus kehidupan, kondisi keluarga, pendapatan, pola geografis dan sebagainya.
4.  Produk barang atau jasa berubah sesuai dengan siklus kehidupan produk tersebut, dari tahap perkenalan sampai tahap penurunan.

Persyaratan Segmentasi Yang Efektif

Ada banyak cara untuk mensegmentasi pasar, namun tidak semua segmentasi efektif. Terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan untuk melakukan segmentasi pasar yang efektif. Keempat faktor tersebut adalah:

1. Dapat diukur (Measurability), yaitu informasi mengenai sifatsifat pembeli yang mencakup ukuran, daya beli dan segmen yang dapat diukur. Misalnya, jumlah segmen masyarakat kaya sebagai calon pembeli mobil yang dijadikan segmen penjualan mobil Toyota Kijang.
2.  Dapat dijangkau (Accessibility), yaitu segmen pasar dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
3. Besarnya cakupan (Substantiality), yaitu tingkat keluasan segmen pasar dan menjanjikan keuntungan bila dilayani. Suatu segmen sebaiknya merupakan kelompok yang homogen dengan jumlah yang cukup besar, sehingga cukup bernilai jika dilayani dengan program pemasaran yang disesuaikan.
4.   Dapat dilaksanakan, yakni program yang efektif dapat dirancang untuk menarik dan melayani segmen tersebut. Sebagai misal, walaupun sebuah perusahaan angkutan antar kota mengidentifikasi sepuluh segmen pasar, namun stafnya terlalu sedikit untuk mengembangkan pemasaran terpisah bagi tiap segmen.
5.   Memberikan keuntungan (profitable)
      Segmentasi pasar bukanlah pekerjaan yang mudah. Apabila segmen-segmen pasar yang telah terbentuk masing-masing atau sebagian besar tidak memberikan keuntungan dari perbedaan tersebut, maka usaha ini tidak bermanfaat. Artinya hanya segmen-segmen yang memberikan peluang untuk keuntungan rancangan tersebut yang bermanfaat.

Riset Pemasaran dgn SPSS





DEFINISI



1.1. Definisi

Proses yang objektif dan sistematis dalam mengumpulkan informasi yang digunakan untuk membantu dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan pemasaran (tidak berfungsi sebagai pengganti dalam membuat keputusan manajemen).

Berkaitan dengan konsep pemasaran, riset pemasaran:

Berorientasi pada konsumen.
Mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang, tidak semata-mata untuk meningkatkan volume penjualan
Mengintegrasikan dan mengkoordinasi pemasaran dengan fungsi perusahaan.


1.2. Peranan

Riset pemasaran mempunyai beberapa peran, diantaranya ialah :

  1. Merupakan cara yang efektif untuk menentukan produk atau layanan (baru) yang laku jual. Contoh: melakukan survai kebutuhan jenis minuman energi baru, misalnya Ekstra Joss, Hemaviton, Lipovitan, dll.
  2. Merupakan sarana manajemen yang efektif dan efisien. Contoh, untuk memutuskan apakah harga suatu produk akan dinaikkan atau tidak.
  3. Merupakan sarana yang baik secara metodologi dan statistik.
  4. Merupakan proses ilmiah yang bersifat netral dan memberikan hasil yang tidak bias/valid.
  5. Merupakan sarana mendekatkan perusahaan dengan konsumen atau promosi secara halus.
Dapat menunjukkan cara-cara dalam menembus hambatan-hambatan dalam proses penjualan produk/jasa. Misalnya, mengapa produk brand Saripati Ayam tidak dikenal masyarakat luas.


1.3. Tahapan dalam Melakukan Riset Pemasaran

Tahapan dalam melakukan riset pemasaran ialah :


1. Mendefinisikan masalah,
2. Mengembangkan pendekatan masalah yang diteliti,
3. Menformulasikan desain riset,
4. Mengumpulkan data,
5. Mengolah dan menganalisis data,
6. Membuat laporan dan mempresentasikan.


1.4. Klasifikasi Riset Pemasaran
Klasifikasi dalam riset pemasaran dapat dilihat dalam gambar di bawah ini :



Gambar 1.1. Klasifikasi Riset Pemasaran

Riset Pemasaran dgn SPSS full teks









































Analisis Bauran Pemasaran terhadap prilaku konsumen

Pemasaran merupakan kegiatan pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap perusahaan guna mencapai tujuannya. Masalah pemasaran merupakan masalah yang penting, mengingat dewasa ini persaingan barang dan jasa yang dipasarkan semakin ketat. Hal ini menuntut perusahaan untuk menggunakan strategi pemasaran yang tepat agar perusahaan dapat memenangkan persaingan tersebut.
Dalam strategi pemasaran, ada dua variabel besar yang perlu diperhatikan, yaitu variabel yang dapat dikontrol dan variabel yang tidak dapat dikontrol. Salah satu dari variabel yang dapat dikontrol oleh perusahaan adalah bauran pemasaran (marketing mix), yaitu kombinasi dari berbagai variabel pemasaran yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan dalam penjualan, sehingga akan dicapai volume penjualan dengan biaya yang memungkinkannya mencapai tingkat laba yang diinginkan.
Pada sektor jasa, strategi pemasaran juga mutlak diperlukan untuk meningkatkan volume penjualannya. Selama ini para pemasar telah mengenal empat komponen dasar atau unsur-unsur dalam bauran pemasaran, yaitu produk, harga, promosi dan distribusi atau yang biasa disebut dengan 4P (Product, price, promotion, & place).
Dalam pemasaran jasa, ada elemen-elemen lain yang bisa dikontrol dan dikombinasikan untuk keperluan komunikasi dengan konsumen jasa. Elemen-elemen tersebut adalah: orang (People or Personal traits), lingkungan fisik dimana jasa diberikan atau bukti fisik (physical evidence), dan proses jasa itu sendiri (process). Dengan demikian 4P’s yang pada mulanya menjadi bauran pemasaran barang, perlu diperluas menjadi 7P’s jika ingin digunakan dalam pemasaran jasa (Yazid, 1999:20).
Untuk menentukan strategi bauran pemasaran yang tepat, yang perlu dipahami terlebih dulu adalah perilaku konsumen. Dengan mengenal konsumen akan dipahami karakteristik pembeli maupun bagaimana seorang pembeli membuat keputusannya serta berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku mereka dalam mengambil keputusan atas pembelian suatu produk/jasa.
Konsumen dalam memantapkan keputusan pembelian suatu produk, terlebih dahulu akan mempertimbangkan berbagai informasi yang mereka terima, termasuk diantaranya unsur-unsur bauran pemasaran. Bauran pemasaran produk yang ditanggapi atau direspon dengan baik (positif) oleh konsumen akan memiliki peluang yang besar bagi produk tersebut untuk dibeli. Dapat diasumsikan bahwa penilaian atau tanggapan konsumen terhadap bauran pemasaran akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui tanggapan konsumen terhadap bauran pemasaran yang dilakukannya. Perusahaan yang memahami betul bagaimana tanggapan konsumen terhadap unsur-unsur bauran pemasaran produknya akan mempunyai kelebihan-kelebihan dibanding pesaingnya.
Seperti halnya produk atau jasa lainnya, ketika konsumen akan memilih jasa lembaga bimbingan belajar mereka juga dipengaruhi oleh banyak faktor dan salah satunya adalah faktor bauran pemasaran yang dilakukan oleh lembaga bimbingan belajar tersebut.
Lembaga bimbingan belajar merupakan suatu wadah yang diharapkan mampu memberikan kontribusi tambahan bagi siswa, khususnya dalam menghadapi persaingan dalam berprestasi di sekolah maupun dalam memasuki perguruan tinggi negeri.
Peranan lembaga bimbingan belajar secara keseluruhan diukur dari keberhasilannya dalam memberikan pelayanan bimbingan belajar secara baik dan memuaskan sehingga dapat membantu para siswa untuk mengatasi kesulitan dalam proses belajar secara komprehensif, di mana umumnya target para siswa tersebut adalah meraih prestasi tinggi di sekolahnya dan kemampuan meneruskan pendidikan ke tingkat sekolah selanjutnya yang kualifikasinya patut diandalkan.
Selain itu juga kemampuan lembaga bimbingan belajar dalam memberikan pelayanan bimbingan belajar dapat membentuk persepsi konsumen terhadap lembaga bimbingan belajar tersebut. Untuk itu lembaga bimbingan belajar harus dapat meningkatkan pelayanannya seoptimal mungkin untuk memperkokoh citra baik di mata masyarakat dan tentu saja akan mendukung upaya lembaga bimbingan belajar tersebut dalam menjaring konsumen.
Semakin banyaknya pelaku dalam bisnis lembaga bimbingan belajar ini, menyebabkan adanya persaingan yang ketat, karena masing-masing lembaga bimbingan belajar berusaha mendapatkan tempat/posisi yang baik dalam pasar, sementara pasar yang ada semakin sempit.
Dengan demikian, untuk mencapai tujuannya yaitu mendapatkan tempat/posisi yang baik dalam pasar, maka sebuah lembaga bimbingan belajar harus memahami betul faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam memilih lembaga bimbingan belajar, dimana faktor yang sangat penting untuk diperhatikan adalah faktor bauran pemasaran, karena faktor bauran pemasaran ini merupakan faktor yang ada dalam kendali perusahaan.
Di sisi lain, perilaku konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial, pribadi, dan psikologis. Dari keempat faktor tersebut, faktor psikologislah yang menjadi sasaran pemasar untuk mempengaruhi konsumen. Bila diperinci lebih lanjut, faktor tersebut terdiri dari empat faktor utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, dan kepercayaan dan sikap (Kotler, 1997:165).

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/budirahayu100302007.pdf

Abstrak:
Abstrak Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran DOC (day old chicks) pedaging pada makalah ini disebut PT X. Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah belum mampu menyusun strategi pemasaran yang tepat karena kurangnya informasi mengenai ”trend” dan jumlah permintaan DOC di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi internal dan eksternal yang dihadapi perusahaan dan menyusun rencana serta strategi yang tepat bagi pemasaran perusahaan. Penelitian ini dilaksanakan pada PT X unit Bali di Denpasar serta pengambilan data dari responden peternak dan pakar peternakan di Bali dengan metode survai. Design penelitian adalah riset deskriptif. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis ”Internal Factor Evaluation - External Factor Evaluation” (IFE - EFE) serta matriks Internal-Eksternal (IE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT X Unit Bali berada pada sel IV, yang masuk ke dalam kelompok pertama yaitu strategi tumbuh dan bina. Formulasi strategi yang disarankan adalah : 1) melakukan riset pasar; 2) melakukan promosi penjualan dan 3) melakukan analisis kembali terhadap sistem dalam pola kemitraan yang telah diterapkan agar mampu menyerap lebih banyak DOC. ANALYSIS ON THE MARKETING STRATEGY OF DOC BROILER AT PT X OF BALI UNIT Abstract PT X of Bali Unit is one of the companies in marketing of broiler DOC (Day Old Chicks). In the high competition of marketing, the company has to apply the right strategy to increase their own market share. The aims of this study are analyzing the internal and external factors faced by the company, setting up and recommending appropriate plan and strategy for the marketing of DOC at PT X in Bali. The study was conducted at PT X of Bali Unit, and some data sampling has been taken from broiler chicken breeders and animal husbandry scientists in Bali. The internal and external factor analysis and IE Matrix were used in this study. Based on the internal and external factor analysis and IE matrix, there are some alternative strategies suggest to the company : 1) Carry out a marketing research; 2) Carry out a marketing promotion; 3) Reanalyzing the partnership system.

Entri Populer

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme