LINGKUP PEMASARAN


LINGKUP PEMASARAN

Pemasaran umumnya dipandang sebagai tugas untuk menciptakan, memperkenalkan, dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen dan perusahaan. Sesungguhnya, orang- orang pemasaran melakukan pemasaran dari 10 jenis wujud yang berbeda: barang, jasa, pengayaan  pengalaman,  peristiwa,  orang,  tempat,  kepemilikan,  organisasi,  informasi, dan gagasan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan oleh Pemasar

☻Bagaimana cara mengenali dan memilih segmen pasar yang tepat untuk dilayani?
☻Bagaimana cara mendiferisiasikan tawaran kita terhadap tawaran pesaing?
☻Bagaimana cara menaggapi pelanggan yang mendesak kita untuk menurunkan harga?
☻Bagaimana cara bersaing dengan para pesaing yang berbiaya rendah, berharga rendah dari dalam dan luar negeri?
☻Sejauh mana cara menyesuaikan tawaran kita supaya pas dengan kebutuhan masing- masing pelanggan?
☻Cara-cara penting apa yang dapat menumbuhkan bisnis kita?
☻Bagaimana cara membangun merek yang lebih kuat?
☻Bagaimana cara kita menguarangi biaya untuk mendapatkan pelanggan?
☻Bagaimana cara menjaga pelanggan kita supaya tetap setia selama periode yang panjang?
☻Bagaimana cara menetapkan pelanggan yang lebih penting?
☻Bagaimana cara mengukur lamanya pengembalian modal yang diinvestasikan dalam iklan, promosipenjualan, dan kehumasan (PR)?
☻Bagaimana cara memperbaiki produktivitas tenaga penjual?
☻Bagaimana cara membangun saluran pemasaran ganda dan mengelola konflik saluran?
☻Bagaimana cara membuat departemen-departemen lain perusahaan di kita menjadi lebih berpotensi kepada pelanggan?

MENDEFINISIKAN PEMASARAN

Dari  sejumlah  definisi  pemasaran  yang  ditawarkan,  kita  dapat  membedakan  antara definisi   sosial   dan   definisi   manajerial.   Definisi   sosial   menunjukkan   peran   yang dimainkan  oleh  pemasaran  di  masyarakat.  Seorangpemasar  mengatakan  bahwa  peran pemasaran adalah ”menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi.” Berikut ini ada sebuah definisi sosial yang sesuai dengan tujuan kita:

♠        Pemasaran  adalah  suatu  proses  sosial  yang  di  dalamnya  individu  dan  kelompok mendapatkan apa    yang             merekabutuhkan                        dan   inginkan    dengan   menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Untuk  definisi  manajerial,  pemasaran  sering  digambarkan  sebagai  ”seni  menjual produk.”Akan tetapi, orang heran ketika mereka mendengar bahwa bagian yang paling penting dari pemasaran adlah bukan penjualan! Penjualan itu hanya merupakan puncak


kecil  gunung  es  pemasaran.  Peter  Drucker,  seorang  ahli  teori  manajemen  terkemuka, mengatakan sebagi berikut:

Orang dapat mengansumsikan bahwa akan selalu ada kebutuha akan penjualan.
Akan tetapi, tujuan pemasaran bukan untuk memperluas penjualan hingga kemana- mana.  Tujuan  pemasaran  bukan  untuk  mengetahui  dan  memahami  pelanggnan sedemikian  rupa  sehingga  produk  atau  jasa  itu  cocok  dengan  pelanggan  dan selanjutnya menjual dirinya sendiri. Idealnya, pemasaran hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap untuk membeli. Semua yang dibutuhkan selanjutnya adalah menyediakan produk atau jasa itu.

♠      ( Manajemen ) pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan   harga,   promosi,   serta   penyaluran   gagasan,   barang,   dan   jasa   untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi.

KONSEP PEMASARAN INTI

Pemasaran dapat dipahami lebih lanjut dengan mendefinisikan beberapa konsep intinya.

Pasar Sasaran dan Segmentasi
Jarang  seorang  pemasar  dapat  memuaskan  setiap  orang  di  pasar.  Tidak  setiap  orang menyukai  miniman  ringan,  ruangan  hotel,  restoran,  mobil,  perguruan  tinggi,  dan  film yang  sama.  Oleh  karena  itu,  para  pemasar  memulai  dengan  segmentasi  pasar.  Mereka mengidentifikasi  dan  membedakan  kelompok-kelompok  pembeli  yang  mungkin  lebih menyukai atau memerlukan berbagai produk dan bauran pemasaran. Segmen pasar dapat diidentifikasi   dengan   memeriksa   perbedaan-perbeaan   demografis,   psikografis,   dan
perilaku di kalangan para pembeli. Selanjutnya, perusahaan memutuskan segmen mana
yang  menyajikan  peluang  yang  lebih  besar  mereka  yang  kebutuhannya  dapat  dipenuhi oleh perusahaan dengan cara yang unggul.
Untuk  masing-masing  pasar  sasaran  yang  terpilih,  perusahaan  mengembangkan suatu  tawaran  pasar.  Tawaran  itu  diposisikan  di  pikiran  para  pembeli  sasaran  sebagai suatu   yang   memberikan   beberapa   manfaat   sangat   penting.   Sebagai   contoh,   Volvo mengembangkan  mobilnya  untuk  para  pembeli  di  pasar  sasaran  yang  menganggap keselamatam  mobil  sebagai  perhatian  utama.  Oleh  karena  itu,  Volvo  memposisikan mobilnya sebagai mobil yang paling aman yang dapat dibeli pelanggan.
Secara tradisional, ”pasar”adalah tempat fisik di mana para pembeli dan penjual berkumpul untuk mempertukarkan barang. Para ahli ekonomi sekarang menggambarkan pasar  sebagai  kumpulan  pembeli  dan  penjual  yang  melakukan  transaksi  atas  sebuah produk  atau  kelompok  produk  tertentu  (pasar  perumahan  atau  bahan  makanan  ).  Akan tetapi, para pemasar memandang penjual sebagai bagian yang membentuk pasar.
Orang-orang  bisnis  sering  menggunakan  istilah  pasar  untuk  meliput  berbagai pengelompokan pelanggan. Mereka berbicara tentang pasar kebutuhan (pasar orang yang melakukan diet); pasar produk (pasar sepatu); pasar demografis (pasar orang muda); dan pasar  geografis  (pasar  perancis).  Atau,  mereka  memperluas  konsep  itu  untuk  meliputi pasar lain, seperti pasar pemilih (pemberi suara), pasar tenaga kerja, dan pasar donor.


Pemasar dan Pospek
Seorang  pemasar  adalah  seseorang  yang  mencari  tanggapan  (perhatian,  pembelian, pemberian  suara,  sumbangan)  dari  pihak  lain  yang  disebut  prospek.  Jika  dua  pihak  itu saling  berusaha  untuk  menjual  sesuatu  kepada  yang  lain,  kita  menyebut  keduanya pemasar(marketers).

Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan
Pemasar  harus  berupaya  untuk  memahami  kebutuhan,  keinginan,  dan  permintaan  pasar sasaran.  Kebutuhan  menggambarkan  tuntunan  dasar  manusia.  Orang  membutuhkan makana,  udara,  air,  pakaian,  dan  tempat  berlindung  untuk  bisa  bertahan  hidup.  Orang juga  sangat  membutuhkan  rekreasi,  pendidikan,  dan  hiburan.  Kebutuhan-kebutuhan  itu menjadi  keinginan  bila  diarahkan  kepada  sasaran-sasaran  spesifik  yang  mingkin  dapat memenuhi   kebituhan.   Orang   Amerika   membutuhkan   makanan   tetapi   menginginkan sepotong  hamburger,  kentang  goreng,  dan  miniman  ringan.  Seseorang  di  Mauruitus membutuhkan  makanan  tetapi  menginginkan  sebuah  mangga,  nasi,  miju-miju  (lentils) atau   biji-bijian   kering   yang   dimasukkan   ke   sup,   dan   kacang-kacangan.   Keinginan dibentuk oleh lingkungan masyarakat seseorang.
Permintaan  adalah  keinginan  akan  produk-produk  spesifik  yang  diduking  oleh kemampuan  untuk  membayar.  Banyak  orang  menginginkan  sebuah  Mercedes;  hanya sedikit  yang  mampu  dan  mau  membelinya.  Perusahaan  harus  mengukur  bukan  saja berapa  banyak  orang  menginginkan  produk  merka melainkan juga berapa banyak yang akan benar-benar mau dan mampu membelinya.
Perbedaan-perbedaan itu memperjelas kritik yang sering dilontarkan bahwa ”para pemasar  menciptakan  kebutuhan”  atau”pemasar  membuat  orang  membeli  barang  yang tidak  merka  inginkan.  ”para  pemasar  tidak  menciptakan  kebutuhan;  Kebutuhan  telah lama  ada  sebelum  pemasar.  Pemasar,  bersama  dengan  pengaruh-prngaruh  masyarakat
lain,   mempengaruhi   keinginan.   Pemasar   mungkin   mempromosikan   gagasan   bahwa
sebuah Mercedes akan memuaskan kebutuhan seseorang akan ststus sosial. Akan tetapi, mereka tidak menciptakan kebutuhan akan status sosial.

Produk atau Tawaran
Orang  memuaskan  kebutuhan  dan  keinginan  mereka  dengan  produk.  Produk  adalah setiap tawaran             yang        dapat  memuaskan                kebutuhan   dan   keinginan.    Kita    sudah menyebutkan   sebelumnya   jenis   utama   tawaran   dasar:   barang,   jasa,   pengalaman, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan gagasan.
Merek adalah suatu tawaran dari suatu sumber yang sudah dikenal. Nama merek seperti  McDonald’s  menimbulkan  banyak  asosiasi  dalam  pikiran  orang:  hamburger, kegembiraan   anak-anak,   makanan   siap   saji,   Golden   Arches.   Asosiasi-asosiasi   itu membangun kekuatan mereka yakni, citra merk yang kuat dan menyenagkan.

Nilai dan Kepuasan
Produk atau tawaran akan berhasil jika memberikan nilai dan kepuasan kepada pembeli sasaran.  Pembeli  memilih  di  antara  beraneka  ragam  tawaran  dari  mulaiyang  dianggap memberikan nilai yang paling banyak. Kita mendefinisikan nilai sebagai rasio antara apa yang didapatkan dan apa yang diberikan pelanggan. Pelanggan mendapatkan manfaat dan mengeluarkan  biaya.  Manfaat  mencakup  manfaat  fungsional  dan  manfaat  emosional.


Biaya  mencakup  biaya  moneter,  biaya  waktu,  biaya  energi,  dan  biaya  fisik.dengan demikian, nilai dirumuskan:

Nilai  =  Manfaat  =    Manfaat fungsional + manfaat emosional
Biaya           Biaya moneter + biaya waktu + biaya energi + biaya fisik



Pemasaran dapat meningkatkan nilai tawaran pelanggan dengan beberapa cara : Meningkatkan manfaat
Mengurangi biaya
Meningkatkan manfaat dan mengurangi biaya
Meningkatkan manfaat lebih besar dari pada kenaikan biaya
Mengurangi manfaat lebih kecil dari pada pengurangan biaya

Pertukaran,  yang  merupakan  konsep  inti  dari  pemasaran,  mencakup  perolehan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai gantinya. Supaya muncul potensi pertukaran, lima persyaratan harus dipenuhi :
1.   Sekurang-kurangnya ada dua pihak.
2.   Masing-masing pihak memiliki sesuatu yang bernilai bagi pihak lain.
3.   Masing-masing pihak mampu berkomunikasi dan menyerahkan sesuatu.
4.   Masing-masing   pihak   bebas   untuk   menerima   atau   menolak   tawaran pertukaran.
5.   Masing-masing   pihak   yakin   bahwa   bertransaksi   dengan   pihak   lain merupakan hal yang tepat dan diinginkan.

Hubungan dan Jaringan Kerja
Pemasaran  transaksi  adalah  bagian  dari  suatu  gagasan  yang  lebih  besar  yang  disebut
pemasaran hubungan (relationship marketing).Pemasaran hubungan mempunyai tujuan membangun hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan utama-pelanggan, pemasok, distributor-dalam rangka mendapatkan serta mempertahankan preferensi dan kelangsungan bisnis jangka panjang mereka.

Saluran Pemasaran
Untuk mencapai
pasar  sasaran,  pemasar  menggunakan  tiga  jenis  saluran  pemasaran.Saluran  komunikasi (communication   channels)digunakan   untuk   menyerahkan   dan   menerima   pesan   dari pembeli sasaran.Saluran komunikasi ini meliputi surat kabar, majalah, radio, televisi, pos, telepon,  papan  iklan,  poster,  pamflet,  CD,  audiotape,  dan  internet.  Lebih  jauh  dari  itu, komunikasi disalurkan melalui ekspresi wajah dan pakaian, penampilan toko-toko eceran, dan  banyak  media  lain.  Saa  ini,  pemasar  semakin  banyak  menambah  saluran  dialog (email  dan  nomor  nomor  bebas  pulsa)untuk  mengurangi  saluran  monolog  yang  lebih normal (seperti iklan).
Pemasar menggunakan saluran distribusi untuk memamerkan atau menyerahkan produk  fisik  atau  jasa  kepada  pembeli  atau  pengguna.  Kita  mengenal  ada  saluran distribusi  fisik  dan  saluran  distribusi  jasa.  Yang  termasuk  disitu  adalah  pergudangan,


sarana   transportasi,   dan   berbagai   saluran   dagang,   seperti   distributor,   grosir,   dan pengecer.pemasar juga menggunakan saluran penjualan untuk mempengaruhi

Marketing Basics

To succeed, entrepreneurs must attract and retain a growing base of satisfied customers. Marketing programs, though widely varied, are all aimed at convincing people to try out or keep using particular products or services. Business owners should carefully plan their marketing strategies and performance to keep their market presence strong.
What is Marketing?
  1. All company policies and activities should be directed toward satisfying customer needs.
  2. Profitable sales volume is more important than maximum sales volume.
To best use these principles, a small business should:
  • Determine the needs of their customers through market research
  • Analyze their competitive advantages to develop a market strategy
  • Select specific markets to serve by target marketing
  • Determine how to satisfy customer needs by identifying a market mix
Market Research
Successful marketing requires timely and relevant market information. An inexpensive research program, based on questionnaires given to current or prospective customers, can often uncover dissatisfaction or possible new products or services.
Market research will also identify trends that affect sales and profitability. Population shifts, legal developments, and the local economic situation should be monitored to quickly identify problems and opportunities. It is also important to keep up with competitors' market strategies.
Marketing Strategy
A marketing strategy identifies customer groups which a particular business can better serve than its target competitors, and tailors product offerings, prices, distribution, promotional efforts, and services toward those market segments. Ideally, the strategy should address unmet customer needs that offer adequate potential profitability. A good strategy helps a business focus on the target markets it can serve best.
Target Marketing
Owners of small businesses usually have limited resources to spend on marketing. Concentrating their efforts on one or a few key market segments — target marketing — gets the most return from small investments. There are two methods used to segment a market:
  1. Geographical segmentation — To specialize in serving the needs of customers in a particular geographical area. For example, a neighborhood convenience store may send advertisements only to people living within one-half mile of the store.
  2. Customer segmentation — To identify those people most likely to buy the product or service and targeting those groups.
Managing the Market Mix
Every marketing program contains four key components:
  1. Products and Services
  2. Promotion
  3. Distribution
  4. Pricing
These are combined into an overall marketing program.
Products and Services — Product strategies may include concentrating on a narrow product line, developing a highly specialized product or service, or providing a product-service package containing unusually high-quality service.
Promotion — Promotion strategies include advertising and direct customer interaction. Good salesmanship is essential for small businesses because of their limited ability to spend on advertising. Good telphone book advertising is also important. Direct mail is an effective, low-cost medium available to small business.
Price — The right price is crucial for maximizing total revenue. Generally, higher prices mean lower volume and vice-versa; however, small businesses can often command higher prices because of their personalized service.
Distribution — The manufacturer and wholesaler must decide how to distribute their products. Working through established distributors or manufacturers' agents generally is easiest for small manufacturers. Small retailers should consider cost and traffic flow in site selection, especially since advertising and rent can be reciprocal: A low-cost, low-traffic location means spending more on advertising to build traffic.
The nature of the product or service is also important in siting decisions. If purchases are based largely on impulse, then high traffic and visibility are critical. On the other hand, location is less a concern for products or services that customers are willing to go out of their way to find. The recent availability of highly segmented mailing lists, purchased from list brokers, magazines, or other companies, has enabled certain small businesses to operate from any location yet serve national or international markets.

The ABCs of Effective Advertising

If you want your advertising to resonate with prospective customers, it's essential that you appeal to their emotions in some way. Fail to do this and you might as well be throwing money out the window.
Effective ads sell your message, company, or product. They may or may not be creative, but if you can package some good creative in with a message that appeals to a strong need or want within your target audience, it will certainly help. Effective ads are convincing. They engage prospects as if you were speaking directly to them, and when you succeed in making this connection your prospective customer's thoughts will become your brand itself. Be sure to check out Advertising Basics for Small Businesses for some pointers.
Even if you achieve the enviable position of having a provocative ad execution with an effective message, your work is far from over. In fact, in the world of advertising, your work is never over. Continually exposing your customers, prospective customers, and suspects (those who aren't currently interested in your company or product, but who might be shortly) to the same messaging over a prolonged period of time will lead to stagnation. Eventually, you'll fail not only to inspire brand loyalty, but also to retain it. Even Coke, one of the world's most valuable brands, reinvents its messaging and image when it decides they have begun to lose effectiveness.
Creating an Effective Ad Campaign
So how do you create an effective ad campaign? One way is to go with the single benefit methodology, which directly links your brand to a single benefit. If your deodorant lasts longer, tell the world about it. The characterization or personification angle involves creating a character that expresses the product's benefits or personality. The narrative methodology involves developing a narrative story with episodes describing a problem and its outcome.
Again, aim to produce advertising that states not only a product's facts, but that also appeals to emotions. Using the deodorant example, you might accomplish this by playing off your customers' fears of having body odor at an inopportune time.
Although a calculated and well thought out advertising campaign may do a good job of creating brand awareness, it may fall short of inducing product preference or, the end goal, purchase. For this reason, don't rely on advertising as a complete solution. Instead, support it with marketing and sales promotion to help trigger a purchase.
Apply the following criteria to test the effectiveness of your advertising message:
  1. The ad intelligibly and simply states a single message.
  2. The ad evokes a specific, acute emotion.
  3. The ad is being presented in a space where it will likely be noticed.
  4. The overriding message is clearly evident.
Finally, understand that even a carefully thought out, highly creative campaign with a strong, concise message will fall flat if the product you're advertising just isn't any good. Be honest with yourself on this one. Solicit existing customer feedback. Then decide whether or not it would be a wiser investment if you were to spend the money and time on first improving your product. The better your product is, the less time and money you'll need to spend on traditional advertising. After all, word of mouth advertising is free, and it's often what ultimately makes or breaks a product, brand, or company.

Persaingan usaha : Para Raja Kecap Bersabda

Untuk sebotol kecap, segala cuaca pasti ditempuh. Bagi Fatina Djihan saat menuntut ilmu di University of Leeds, Inggris, empat tahun lalu, dia pasti rela naik bus selama satu jam ke Manchester hanya untuk membeli sebotol kecap produksi Indonesia.
Maklum, kecap manis adalah menu wajibnya setiap kali makan. "Rasanya seperti makan di rumah," ujar tenaga pengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta ini. Kebetulan, menurut Fatina, 33 tahun, merek kecap yang ditemui di kawasan Chinatown di Manchester itu sama dengan merek yang dikonsumsi keluarganya.
Tak mudah bagi kecap manis asli Indonesia untuk tiba ke tangan pelanggan setianya di luar negeri macam Fatina. Selain butuh jaringan yang luas, biayanya pun tak sedikit. Namun, dengan strategi bisnis yang tepat, distribusi ke mancanegara tak lagi jadi soal.
Perang strategi bisnis itulah yang dilakukan oleh dua produsen kecap manis asal Indonesia, ABC dan Bango, yang kini bersaing ketat mengejar posisi puncak. Yang satu pemain senior dengan merek kuat dengan konsumen setianya. Yang lain, pemain baru yang sukses mendongkrak penjualannya hingga kini.
Simak data terbaru Single Source Survey dari lembaga riset pasar asal Australia, Roy Morgan Research. Sepanjang April 2006 hingga Maret 2007, pembelian kecap ABC partai besar mengalami penurunan dari 51 menjadi 41 persen. Sebaliknya, penjualan kecap Bango dalam kurun waktu yang sama naik dari 19 menjadi 21 persen.
Menurut riset lembaga riset pasar Euromonitor International, pada 2001, ABC menguasai 40 persen dari total penetrasi pasar (market share) kecap di Indonesia sebesar Rp 1,6 triliun. Namun, pada 2005, posisinya menurun hingga 33 persen dari total pasar yang mencapai Rp 3 triliun. Sebaliknya, pangsa pasar kecap Bango tetap stabil selama 2001�2005, yakni sebesar 32 persen. "Ini perang bisnis antara dua merek yang sudah kuat," kata pengamat bisnis dari MarkPlus Institute of Marketing, Yuswohady.
Kecap manis ABC sebetulnya bukan pemain baru di dunia kecap nasional (lihat ABC, Setelah 32 tahun). Februari 1999, saham mayoritas pendiri kecap yang terdiri atas tujuh varian ini dibeli oleh HJ Heinz Co., perusahaan kecap yang berpusat di Pittsburg, Amerika Serikat. Tak lama kemudian, nama perusahaan pun berubah menjadi PT Heinz ABC Indonesia.
Lewat bendera barunya, kecap ABC mengalami perubahan teknologi informasi, proses pembuatan, dan jaringan pasar internasional. Hasilnya, angka penjualan tahunan kecap ABC dunia tak bergeser dari US$ 100 juta atau Rp 897 miliar, dengan kontribusi utama dari Indonesia. "Sejauh ini, kami masih memimpin pangsa pasar di Indonesia," kata Direktur Pemasaran PT Heinz ABC Indonesia, Iriana Ekasari Muazd.
Tak mau kalah, Unilever Indonesia pun mengakuisisi produk Kecap Bango pada 2001 (lihat Si Bango yang Terbang Jauh). Di tangan perusahaan multinasional ini, Kecap Bango tumbuh pesat lewat pemasaran modern. Kini, penjualan tahunannya mencapai Rp 500 miliar. Kecap Bango pun melebarkan sayap hingga ke Asia Tenggara dan Arab Saudi. "Negara lain sudah banyak yang melirik Bango," kata Manajer Senior Bango, Heru Prabowo.
Bendera perang pun makin berkibar. Setelah akuisisi dan joint venture, berikutnya adalah peremajaan produk. Mulai Februari tahun ini, Kecap Bango menyegarkan logo burung bangaunya dan mengubah merek dagang dari "Kecap Bango" menjadi "Bango". Unilever pun mengeluarkan kecap Bango kemasan sachet seharga Rp 300 per satuan, untuk menjangkau masyarakat kelas bawah. "Namun, belum tersebar di seluruh Indonesia," kata Dicky Saelan, Manajer Pemasaran Divisi Makanan PT Unilever Indonesia Tbk.
Seminggu setelah Bango berganti baju, ABC pun tampil lebih segar dan modern, walau tanpa mengubah logo dan merek. Menurut Iriana, perubahan ini dilakukan bukan karena latah, melainkan "sudah dipersiapkan sejak setahun lalu".
Perang pun berlanjut lewat promosi langsung dengan konsumen (below the line). Tayangan program televisi "Bango Cita Rasa Nusantara" masih dipertahankan, bahkan kontraknya terus diperpanjang. Jurus jitu lainnya, menggelar acara "Festival Jajanan Bango" yang tahun ini memasuki tahun ketiga. Diselenggarakan di beberapa kota besar, acara ini terbukti sukses menggaet penikmat baru kecap Bango.
Heinz ABC Indonesia tak tinggal diam. Lewat program ABC Culinary Academic, dicetaklah penasihat masakan (cooking advisor) hasil didikan juru masak ABC. Nantinya, penasihat ini akan ditempatkan di gerai penjualan kecap ABC untuk memberi tips membuat masakan lebih sedap. Juru masak ABC pun iklan paling tokcer. Mereka siap diundang demo masak secara cuma-cuma dengan menggunakan kecap ABC.
Persaingan kedua merek ini paling kentara lewat promosi media (above the line), sebab kedua perusahaan besar ini tak pelit mengeluarkan dana untuk beriklan. Pemantauan Nielsen Media Research pada 2006, Unilever menghabiskan dana Rp 23 miliar untuk promosi kecap Bango. Sedangkan Heinz ABC Indonesia membayar Rp 22 miliar untuk belanja iklan kecap ABC.
Hasilnya, Bango memang bukan pemimpin pasar. "Tetapi dia memimpin emosi sehingga lebih dikagumi pelanggan," tutur Yuswohady. Dampaknya, brand equity Bango pun semakin kuat.
Untuk melawan balik Bango, Yuswo punya solusi. "Jangan terpancing," katanya. ABC harus tetap memelihara kepercayaan dirinya sebagai pemimpin pasar. Karena jebakan paling mematikan bagi ABC adalah menjadi pengikut dan mengikuti aturan baru yang diciptakan Bango.

Si Bango Terbang Jauh
Bango, bukan Bangau.
Itu karena kecap ini semula merupakan industri rumah tangga yang hanya dikenal di Jakarta dan Jawa Barat. Didirikan oleh Keluarga Tjoa Eng Nio pada 1928 di Tangerang di bawah bendera PT Anugerah Setia Lestari, pemiliknya bercita-cita mengembangkan si Bango hingga ke mancanegara. Mimpi itu memang terwujud lewat ekspor ke berbagai negara dengan omzet Rp 1 miliar per bulan. Cita-cita itu semakin nyata setelah pada 1992 Kecap Bango dipimpin oleh Eppy Kartadinata, putra keempat pasangan Yunus Kartadinata-Tjoa Eng Nio, yang menerima pinangan Unilever Indonesia untuk mengambil alih kepemilikan Kecap Bango. Sejak 2001, Kecap Bango pun resmi menjadi bagian dari Unilever Indonesia.
Pemilik boleh berganti, namun rasa asli Kecap Bango tetap dipertahankan. "Kualitasnya terus ditingkatkan," kata Heru Prabowo, manajer senior merek Bango. Caranya dengan membina petani penghasil kedelai hitam, bahan dasar Kecap Bango, untuk mendapat hasil yang lebih baik.
Hingga enam tahun pasca-akuisisi, banyak hal telah dilakukan oleh Unilever Indonesia. Tak hanya mengekspor Kecap Bango hingga ke seluruh Asia Tenggara dan Arab Saudi, anak perusahaan Unilever International yang berkantor pusat di London, Inggris, dan Rotterdam, Belanda, ini pun meremajakan si Bango yang dinilai tak menggairahkan lagi.
Sejak 1 Februari lalu, Bango tampil dengan nama, logo, dan kemasan baru. Jika dulu mengusung merek Kecap Bango, sekarang cukup Bango saja. Kemasannya pun berubah menjadi terkesan lebih muda dengan warna-warna segar. Kini, si Bango siap terbang jauh dari sarangnya.

ABC, Setelah 32 Tahun
Pemain tua ini masih bergigi. Meski beberapa tahun terakhir brand value-nya menurun, pamor kecap ABC sebagai kecap nomor satu negeri ini masih melekat. Penampilan barunya sejak 7 Februari terkesan modern.
Kecap ABC memang salah satu produk andalan PT ABC Central Food Industri yang berdiri pada 1975. Pendirinya, Chu Sok Sam, mengawali kiprah bisnis di pabriknya di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Tiga tahun kemudian, ia mulai memproduksi sirup, sambal, dan saus tomat. Sejak 1982, mereka memproduksi teh, kopi, dan sari buah dalam kemasan, disusul makanan bayi, ikan kaleng (sarden), dan daging kaleng (corned beef). Produk-produk itu kemudian diekspor.
Sepeninggal Chu pada 1986, generasi kedua, Kogan Mandala, memimpin perusahaan dengan tiga pabrik ini. Sedang giat-giatnya berekspansi, krisis ekonomi melanda. Untuk mengatasi masalah keuangan, ABC Central Food Industry menjual 65 persen sahamnya kepada HJ Heinz Co., raksasa kecap terkemuka asal Amerika Serikat. Otomatis sejak Februari 1999, kecap ABC bernaung di bawah PT Heinz ABC Indonesia.
Sebetulnya kisah sukses Chu Sok Sam bukan hanya produksi makanan-minuman saja. Bersama saudaranya, Chandra Djojonegoro alias Chu Sam Yak, ia juga berhasil membesarkan batu baterai ABC dan Anggur Tjap Orang Tua.
Di bawah pimpinan generasi keduanya pasca-1980, bisnis mereka justru menggurita. Akuisisi, usaha patungan dan pendirian perusahaan baru dilakukan, di antaranya menghadirkan Red Bull (Kratingdaeng), membidani kelahiran pembuat minuman Kiranti, Larutan Penyegar Panjang Jiwo, Larutan Penyegar Tjap Orang Tua, permen Tango, serta pasta gigi Durodont, ABCDent, dan Formula Junior.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/

Mengintip Peluang Bisnis Media Cetak di iPad

Beberapa pengamat memprediksi bahwa iPad bakal menggantikan koran atau majalah di masa depan. Dilihat dari sisi produksi, jelas bahwa teknologi paperless ini lebih efektif ketimbang kertas yang harus didaur ulang.

Sementara dilihat dari sisi ergonomisnya, jelas pembaca di masa depan tak perlu menumpuk koran atau majalah usang lagi di gudang. Dari sisi kepraktisan, benda berukuran 9,7 inchi ini juga lebih enak dijinjing kemana-mana, dibanding koran atau majalah.

Beberapa taipan media luar sudah memiliki rencana bisnis sendiri. Idenya sederhana, hanya memindahkan konten dari koran atau majalah mereka ke iPad. Sisi pemasaran pun telah berubah. Dari kios nyata menjadi 'kios online', dari ngecer menjadi download. Sukseskah model bisnis baru ini?


GQ, Majalah iPad Pertama Terjual 365 Kopi

GQ adalah salah satu dari majalah pertama yang muncul di iPad. Di App Store, GQ dijual seharga US$ 2.99. Harga tersebut jauh lebih murah ketimbang versi 'fisik' nya yang dibanderol US$ 4.99.

"Dengan harga ini, kami tak membutuhkan biaya ekstra. Tak ada biaya cetak atau pengiriman," ujar Pete Hunsinger, Vice President serta penerbit GQ, seperti dikutip detikINET dari Apple insider, Selasa (18/5/2010).

"Semua ini berujung pada profit, saya melihat visi ke depan, bahwa iPad bakal menjadi komponen utama bagi sirkulasi kami," tambahnya.

Walau angka penjualan GQ masih dirasa rendah, namun Hunsinger percaya model bisnis ini ke depannya bakal menguntungkan. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa pengiklan yang terus bertambah di GQ.

Benar saja, pada bulan Mei 2010 ini penjualan GQ meningkat tajam. Berkembang isu bahwa majalah tersebut bakal menjadi best-seller di App Store nantinya. Dari kasus GQ ini dapat dilihat bahwa untuk mencapai keuntungan, penerbit harus bisa bersabar menunggu respon positif dari pasar. Saat publik sudah 'terjerat', di situlah uang mengalir. Penerbit pun tinggal menunggu sembari senyam-senyum melihat jumlah unduhan yang terus bertambah.


Apakah Media Cetak Harus Beralih ke iPad?

Perlahan-lahan nantinya selera konsumen pun bakal berubah. Seiring hal ini, pertanyaan baru muncul, apakah media cetak harus mengikuti model bisnis baru tersebut? Tentu jawabannya bisa bervariasi, tergantung konteksnya.

Menanggapi hal ini, ada baiknya menengok konvergensi teknologi yang telah dilakukan beberapa media asing. Sekitar sebulan lalu, ABC memperkenalkan aplikasi mereka di iPad. Tak lama setelah itu aplikasi mereka laris dengan jumlah pengunduh lebih dari 200.000.

Di awal bulan ini, Taipan Media Rupert Murdoch tengah menikmati hasil dari model bisnis ini. Pasalnya aplikasi iPad Wall Street Journal (WSJ) miliknya, kini memiliki lebih dari 64.000 pembaca. Sebagai informasi, kedua contoh aplikasi berita tersebut saat ini masih gratis.

Fakta-fakta di atas telah membuktikan bahwa pasar ternyata menerima dengan baik model bisnis baru ini. Walaupun terasa lambat, namun prospek model bisnis media paperless ini dipandang cerah ke depannya.

Sayangnya belum ada penelitian yang disiarkan di media terkait efektifitas iPad dibanding koran atau majalah, dilihat dari selera pasar, efektifitas sirkulasi, serta biaya produksinya. Kita tunggu saja, apakah pelaku bisnis media cetak lokal juga bakal melirik iPad? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Twitter: Indonesia nomor tiga di dunia

Bill Gates di Twitter Setelah tercatat sebagai pemakai Facebook terbesar kedua di dunia, Indonesia kini menjadi pemakai terbesar ketiga Twitter setelah AS dan Jepang.

Inilah salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan riset internet yang berkantor di Paris, Semiocast, yang diterbitkan hari Senin (05/7).

Penelitian ini menunjukkan bahwa Asia sekarang mengambil alih posisi AS sebagai kawasan yang paling aktif di dunia dalam menggunakan Twitter.

Angka-angka yang dikumpulkan Semiocast memperlihatkan pengguna Asia saat ini mengirimkan 37% dari 96 juta pesan pendek, atau tweet, di seluruh dunia setiap hari.

Kiriman pesan dari pemakai di Amerika Utara hanya 31% dari total per hari, menurun dari 36% tiga bulan lampau. Pangsa Asia meningkat dari 31,5% pada bulan Maret.

Pemicu popularitas

Menurut Semiocast, penyebaran telefon model terbaru di Asia dan layanan bahasa Jepang oleh Twitter diduga ikut berperan dalam peningkatan jumlah pengguna jejaring sosial mirko itu.

Di Korea, situs jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook mulai populer setelah pemasaran iPhone Apple tahun lalu. Kemudian, distribusi telefon canggih buatan lokal seperti Samsung, LG dan alat-alat teknologi canggih lainnya membuat situs itu lebih populer lagi.

Layanan bahasa Jepang di Twitter dimulai pada tahun 2008. Penggunaan bahasa Jepang inilah yang membuat situs itu menjadi booming di negara ini, kata para analis. Mereka mengatakan, pengenalan huruf Jepang adalah faktor utama popularitas jejaring sosial tersebut.

Konferensi Twitter Ketika Jepang bertanding melawan Denmark pada pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan belum lama ini, sebanyak 3.283 pesan dikirimkan setiap detik melalui Twitter bahasa Jepang, menurut persuahan riset Nielsen Company.

Sekarang ini, semakin banyak selebriti dan politisi serta perusahaan yang mengirimkan pesan pendek ke para pengikut mereka.

Di seluruh dunia ada 150 juta pelanggan Twitter, dan rata-rata 330.000 pengguna internet mendaftarkan diri sebagai anggota baru, tiap hari.

Dalam urutan dunia, Amerika Serikat masih berada di urutan pertama sebagai pengguna Twitter, diikuti oleh Jepang, Indonesia, Brazil dan Inggris. Korea Selatan di posisi ketujuh.

Untuk peringkat Asia, Jepang paling banyak mengirimkan tweet, diikuti oleh Indonesia, Korea dan India.

Pemasaran Rokok Herbal Dari Mulut ke Mulut Hingga Dunia Maya

Pemasaran menggunakan jaringan kultural justru lebih mengena dan tepat sasaran. Setelah satu tahun berdiri, bisnis ini terus berkembang. Dan kini jumlah pekerja mencapai 200 orang dengan pemasaran ke seluruh Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa.

Manager Marketing PR UD Putra Bintang Timur Mujiono mengaku kunci keberhasilan dalam mengembangkan usaha ini adalah kerja keras. Seluruh karyawan harus mengetahui seluruh proses pembuatan rokok, mulai melinting hingga penjualan. Sehingga terjadi proses pembelajaran tidak hanya menimba ilmu agama di lingkungan pondok.

"Produk ini juga lain dari rokok yang telah beredar, karena rokok ini untuk pengobatan dengan bahan baku herbal," kata Mujiono saat ditemui di kompleks Perum Kalianyar Permai C-1 Desa Sidodadi Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, Kamis (4/11/2010).

Mujiono menambahkan, pada dasarnya rokok buatan Abdul Malik ini berkhasiat ampuh. Bukan hanya dihisap, rokok bisa digunakan untuk terapi dengan jalan merebusnya. Air rebusan itu kemudian diminum oleh para pasien. "Seluruh bagian rokok bisa mengobati," imbuhnya.

Sebelumnya harga rokok ini dijual sebesar Rp 2 ribu, kini berkembang dan bervariasi mulai dari Rp 4 ribu hingga Rp 13 ribu. Produk yang dihasilkan adalah 7 rokok kretek dan 4 rokok filter, kesemuanya satu payung dengan nama rokok terapi sin.

Sekarang usaha rokok Abdul Malik telah berkembang pesat dan berhasil menghidupi banyak orang. Abdul sendiri masih berkeinginan untuk mengembangkan rokok tanpa tembakau. Hal itu mungkin dilakukan mengingat road mape pembatasan rokok mendatang. Sementara rokok di Indonesia sudah menjadi tradisi.

"Saya kini coba kembangkan rokok dari bahan baku daun bayam dan daun pisang, sekarang masih dalam tahap penelitian," kata Abdul Malik.

Kesuksesan dalam mengembangkan usaha ini terus dilanjutkan. Hasilnya untuk menyantuni anak yatim, janda, dan fakir miskin. Kini hampir 700 santrinya menimba ilmu di ponpes binaannya dan menjadi konsumen tetap.

Entri Populer

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme