TEORI PEMASARAN

Pemasaran adalah aliran produk secara fisis dan ekonomik dari produsen melalui pedagang perantara ke konsumen. Definisi lain menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu/kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain. Pemasaran melibatkan banyak kegiatan yang berbeda yang menambah nilai produk pada saat produk bergerak melalui sistem tersebut.

Kegiatan-kegiatan dalam usaha pemasaran tidak hanya kegiatan memindahkan barang /jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen saja dengan sistem penjualan, tetapi banyak kegiatan lain yang juga dijalankan dalam kegiatan pemasaran. Penjualan hanyalah salah satu dari berbagai fungsi pemasaran. Apabila pemasar melakukan pekerjaan dengan baik untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen, mengembangkan produk dan menetapkan harga yang tepat, mendistribusikan dan mempromosikannya secara efektif, maka akan sangat mudah menjual barang-barang tersebut.

Konsep-konsep inti pemasaran dapat ditunjukkan dalam gambar berikut ini :




Gambar 5.1. Konsep-konsep Inti Pemasaran


Konsep paling pokok yang melandasi pemasaran adalah kebutuhan manusia. Dengan adanya perkembangan jaman, kebutuhan berkembang menjadi suatu keinginan mengkonsumsi suatu produk dengan ciri khas tertentu. Munculnya keinginan akan menciptakan permintaan spesifik terhadap suatu jenis produk. Seseorang dalam menentukan keputusan pembelian akan mempertimbangkan nilai dan kepuasan yang akan didapat dari mengkonsumsi suatu produk. Apabila konsumen yakin akan nilai dan kepuasan yang akan didapat, maka konsumen akan melalukan pertukaran dan transaksi juall beli barang dan jasa. Hal inilah yang mendasari terjadinya pasar.



Tujuan sistem pemasaran :

Secara umum, tujuan sistem pemasaran adalah sebagai berikut :

Ø Memaksimumkan konsumsi

Ø Memaksimumkan utilitas (kepuasan) konsumsi

Ø Memaksimumkan pilihan

Ø Memaksimumkan mutu hidup

Kualitas, kuantitas, ketersediaan, harga, lingkungan



Efisiensi Pemasaran :

Yang dimaksud dengan efisiensi pemasaran adalah seberapa besar pengorbanan yang harus dikeluarkan dalam kegiatan pemasaran menunjang hasil yang bisa didapatkan dari kegiatan pemasaran tersebut. Efisiensi pemasaran dapat dicari dengan menghitung rasio “keluaran-masukan” dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan. Semakin tinggi nilai rasio keluaran-masukan, maka pemasaran yang dilakukan semakin efisien. Umumnya efisiensi dapat dicapai dengan salah satu di antara empat cara berikut :

Ø Keluaran tetap konstan, masukan mengecil

Ø Keluaran meningkat, masukan konstan

Ø Keluaran meningkat dalam kadar yang lebih tinggi dari peningkatan masukan

Ø Keluaran menurun dalam kadar yang lebih rendah dari penurunan masukan



FUNGSI PEMASARAN :

1. Fungsi pertukaran

Produk harus dijual dan dibeli sekurang-kurangnya sekali selama proses pemasaran

Misal :

Ø Produsen – Konsumen

Ø Produsen – Tengkulak

Ø Tengkulak – Pedagang Besar

Ø Tengkulak – Pengecer

Didalam proses jual beli terbentuklah harga. Harga terbentuk dari bertemunya antara penawaran dengan permintaan dalam pasar persaingan. Pihak yang terlibat bisa banyak, yaitu produsen, tengkulak, pedagang besar, agen/distributor, pedagang antar kota, pedagang pengecer, konsumen, dan sebagianya. Pihak-pihak tersebut ada yang mempunyai hak milik, ada yang tidak tetapi masing-masing mendapat imbalan sesuai dengan jasanya. Kebanyakan produk Agribisnis dijual/dibeli beberapa kali selama proses pemasaran tergantung panjang pendeknya saluran pemasaran.



2. Fungsi Fisis

Yang termasuk dalam kegiatan-kegiatan fungsi fisis yaitu pengangkutan, penggudangan, dan pemrosesan produk.

Mengingat sifat produk pertanian yang musiman, mudah rusak dan tidak tahan lama, membuat fungsi fisis sangat perlu diperhatikan. Mudah rusaknya komoditi pertanian membuat perlua adanya penanganan khusus pada saat pendistribusian dan pengangkutan, seperti pengemasan yang tepat untuk setiap jenis produk, pengiriman dengan sarana transportasi dengan lemari pendingin, dan sebagainya.

Beberapa komoditi pertanian yang bersifat musiman, tidak mungkin memenuhi permintaan pasar setiap saat dalam bentuk segar. Sehingga pada saat tidak musimnya, konsumen tidak dapat mendapatkannya. Tetapi dalam bentuk olahan, memungkinkan produsen dan pemasar memenuhi permintaan sepanjang tahun. Untuk itulah diperlukan fungsi fisis berupa pemrosesan produk. Adanya kegiatan pemrosesan, berarti juga sangat terkait dengan kebutuhan penyimpanan dan penggudangan untuk mengatur stok.



3. Fungsi penyediaan sarana

Ø Informasi pasar

sumber/produsen, harga pada beberapa pasar, mutu, tarif angkutan, dsb

Ø Standarisasi mutu

Standarisasi komoditi pertanian dalam bentuk segar lebih sulit distandarisasi dari pada produk dalam bentuk olahan

Ø Pembiayaan

Lembaga keuangan negara & swasta, kebijakan pemerintah (kredit ringan, bantuan modal), dsb

Ø Penanggungan resiko

Resiko Fisis : angin, kebakaran, banjir, pencurian, kerusakan.

Resiko Pasar :tidak laku, harga jatuh, persaingan ketat

Untuk mengurangi resiko, usaha yang bisa dilakukan antara lain adalah :

Ø Resiko fisis

Misal : asuransi, pengemasan, transportasi dg pendingin, pemasangan tanda bahaya, dsb

Ø Resiko pasar

Misal : diversifikasi usaha, kontrak di muka, dsb



Biaya Pemasaran :

Biaya pemasaran menunjukkan bagian dari pembayaran konsumen yang diperlukan untuk menutup biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran. Yang termasuk biaya pemasaran produk-produk pertanian antara lain adalah :

Ø Biaya transportasi

Ø Biaya pengemasan

Ø Biaya penyimpanan/ penggudangan

Ø Biaya pemesanan

Ø Biaya merek dagang

Ø Pajak

Ø Biaya resiko kerusakan

Ø dsb


Saluran Pemasaran :

Yang dimaksud dengan saluran pemasaran adalah jejak perpindahan barang dari produsen ke konsumen akhir.

Contoh : saluran pemasaran komoditi Jeruk adalah :

Petani à Tengkulak à Pedagang Pengumpul à Pedagang Pengecer à Konsumen


Semakin panjang saluran pemasaran, biaya pemasaran akan semakin besar karena semakin banyak pelaku-pelaku yang ikut serta dalam kegiatan pemasaran. Yang menyebabkan biaya pemasaran semakin besar, tidak hanya dari semakin banyaknya biaya transportasi saja karena perpindahan produk berkali-kali tetapi juga karena setiap pelaku pasar mengambil keuntungan.

Margin Pemasaran :

Marjin pemasaran didefinisikan sebagai selisih harga di tingkat produsen dengan di tingkat konsumen. Marjin pemasaran berbeda dengan biaya pemasaran meskipin ada kemungkinan besarnya marjin pemasaran sama dengan biaya pemasaran. Terkadang marjin pemasaran lebih kecil dari pada biaya pemasaran karena ada pelaku pasar yang menanggung kerugian.

Seni Delegasi

Seorang manajer terlihat pusing dengan setumpuk pekerjaan yang berserakan di atas mejanya. Suatu pemandangan yang sudah umum terlihat. Tetapi, sadarkah Anda bahwa dari setumpuk pekerjaan tersebut belum tentu semuanya harus Anda kerjakan sendiri? Memang sulit untuk menentukan, apakah semua pekerjaan tersebut harus Anda kerjakan sendiri atau tidak. Mungkin Anda tidak punya otoritas untuk menentukannya, atau mungkin juga Anda merasa tidak yakin akan hasilnya, jika diserahkan/didelegasikan pada orang lain.
Seiring ketika langkah Anda menaiki tangga perusahaan, Anda akan semakin sering mengandalkan keahlian untuk mendelegasikan tugas-tugas, supaya bisa menjadi manajer yang lebih efektif dan efisien. Delegasi yang sukses bisa menciptakan hasil pekerjaan yang lebih baik bagi Anda, maupun sesama rekan kerja. Semua orang akan menjadi semakin produktif.
Berikut ada beberapa tips yang bisa digunakan supaya pengalihan pekerjaan bisa berjalan mulus.
Bersedialah Untuk Mendelegasikan
Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah rela dan mau untuk mendelegasikan pekerjaan tersebut. Banyak orang terperangkap pada pemikiran dan sifat ”perfeksionis” bahwa mereka adalah yang terbaik dan tercepat dalam melakukan semua pekerjaan, dibandingkan dengan orang lain (yang sebenarnya ada dan ”disediakan” untuk membantu Anda).
Memang ada pekerjaan yang sebaiknya Anda lakukan sendiri. Tetapi menimbun pekerjaan untuk diri sendiri tidak akan menguntungkan siapa pun, termasuk diri sendiri dalam jangka panjang. Setiap orang mempunyai batas/limit, tetapi pekerjaan terus mengalir tak kenal waktu dan batas.
Dalam struktur organisasi tradisional top-down, pekerjaan yang paling cocok untuk didelegasikan adalah pekerjaan yang membutuhkan paling sedikit keahlian. Ini berarti, bila Anda tetap keras kepala mengerjakannya, Anda akan kehilangan fokus pada semua pekerjaan utama yang justru harus Anda kerjakan sendiri. Anda juga akan menghilangkan peluang bagi para karyawan di bawah Anda untuk bisa mengerjakan suatu tantangan/pekerjaan baru. Anda bisa jadi mengurangi juga produktivitas dari tim. Kesuksesan kerjasama tim, tergantung dari saling membantu di kala stres dan pekerjaan menumpuk.
Tujuan mendelegasikan pekerjaan bukan hanya untuk mengurangi pekerjaan sendiri, melainkan juga supaya bisa mengembangkan kemampuan orang lain, meningkatkan produktivitas tim dan sudah tentu untuk menghemat banyak waktu.
Miliki Tujuan yang Jelas
Begitu Anda memutuskan pekerjaan apa saja yang hendak didelegasikan, buatlah gambaran yang jelas tentang bagaimana hasil yang ideal akan pekerjaan tersebut menurut Anda. Jika pekerjaannya kompleks, pikirkan juga cara yang paling efisien untuk menyelesaikannya, dan siap untuk memberikan tips-tips tersebut kepada orang yang didelegasikan. Anda tidak akan bisa memberikan instruksi/mendelegasikan pekerjaan, jika Anda sendiri tidak jelas tentang hasil apa yang Anda inginkan.
Pilih Orang yang Tepat
Langkah selanjutnya adalah memilih orang yang tepat. Ingatlah, orang yang terbaik belum tentu adalah orang yang tepat untuk suatu pekerjaan tertentu. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Istilah ”terbaik” sangatlah relatif. Pastikan Anda memilih orang yang tepat, bukan yang terbaik.
Tugas atau pekerjaan yang didelegasikan haruslah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan orang yang didelegasikan, serta tidak terlalu membebani atau menyebabkan stres. Pada saat yang sama, pertimbangkan peluang-peluang yang ada, siapa tahu ada staf Anda yang bisa ditingkatkan kemampuannya dan belajar hal-hal baru.
Kita juga harus mempunyai keahlian membaca karakter dan keahlian orang lain, supaya bisa menemukan orang yang tepat dalam mendelegasikan pekerjaan. Ingat, untuk mempertimbangkan juga beban pekerjaan yang dimiliki orang yang didelegasikan tersebut. Bila Anda menyerahkan pekerjaan pada orang selevel/satu tingkat dengan Anda, tawarkanlah juga bantuan padanya jika pekerjaannya sedang menumpuk.
Berikan Instruksi yang Jelas
Langkah ini adalah salah satu yang menjadi kunci sukses, atau tidaknya pekerjaan yang didelegasikan. Cara Anda mengkomunikasikan pekerjaan akan sangat menentukan proses dan hasilnya nanti. Tergantung dari tingkat kesulitan dan orang yang didelegasikan, Anda mungkin perlu menuliskan instruksi pekerjaannya, selain mengkomunikasikannya secara verbal.
Walaupun terkadang komunikasi verbal saja sudah cukup, tetapi jika Anda membuat catatan/record, Anda akan menciptakan komunikasi yang lebih lancar dan mudah. Kuncinya adalah memastikan agar orang yang didelegasikan mengerti, dan paham benar apa keinginan dan harapan Anda untuk pekerjaan tersebut.
Sampaikan dengan spesifik, dan pastikan segala batasan tentang tanggungjawab dan otoritas yang diberikan dalam mengerjakan tugas, sudah dimengerti sepenuhnya. Misalnya, siapa tahu dia perlu mendelegasikan lagi tugas tersebut pada orang lain. Apakah dia mempunyai otoritas untuk itu? Berikan kebebasan/kelonggaran mengenai cara dan pengaturan waktu dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Ini akan memberikan mereka peluang untuk berkembang. Bisa jadi mereka malah menemukan cara yang lebih efisien dalam mengerjakan pekerjaan tersebut ketimbang Anda. Selanjutnya, pastikan bahwa deadline yang diberikan sudah realistis. Kirimkan email untuk follow-up, jika diperlukan.
Berikan Support
Bila pekerjaan sedang dalam proses, usahakan untuk membuat diri Anda mudah untuk dihubungi, tak peduli seberapa sibuknya Anda. Siapa tahu ada informasi penting yang lupa Anda sampaikan, dan orang yang didelegasikan merasa perlu untuk menanyakannya.
Feedback dan Persiapan
Setelah pekerjaan sudah selesai, sediakan waktu untuk memberikan feedback, apapun hasil pekerjaannya. Jangan lupa pula menyediakan waktu untuk persiapan delegasi tugas berikutnya, jika ada. Jika hasilnya kurang atau tidak memuaskan, maka berikan feedback bagaimana seharusnya supaya pekerjaan tersebut bisa lebih baik – jangan lupa pula untuk me-review diri sendiri, apakah Anda ada melewatkan sesuatu, seperti salah memberikan instruksi misalnya.
Jika pekerjaan perlu direvisi, lebih baik memanggil kembali orang yang sama untuk memperbaikinya. Terlebih, jika Anda berada pada posisi yang lebih senior, maka sudah jelas Anda tidak perlu memperbaiki kesalahan orang lain.
Terakhir, jangan lupa berterima kasih pada orang yang sudah membantu Anda.
Tidak pernah ada kata terlambat untuk mengasah keahlian delegasi Anda. Bahkan, jika Anda adalah seorang junior/staf, Anda bisa menemukan cara untuk mengembangkan keahlian, dengan cara mencari bantuan dari sesama rekan kerja. Mulailah dengan mendelegasikan pekerjaan yang sederhana terlebih dahulu, lalu perlahan berlatih untuk mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan yang lebih kompleks.

Berkomunikasi Bukan Berbicara

Pernahkah Anda membayangkan seperti apa jika ada dua orang yang berbeda karakter dan menerapkan teknik komunikasi yang berbeda, berorasi di depan banyak audiens tentang teman mereka yang sudah meninggal di acara pemakamannya?
Si orang pertama berpidato tentang bagaimana saluran darah di kepala temannya tersebut mulai tersumbat, lalu menyebabkan ini, lalu menyebabkan itu, hingga menyebabkan pecahnya pembuluh darah di kepala temannya. Lalu ia menyambungnya dengan menjelaskan beberapa istilah medis, tips dan saran-saran kesehatan bagi audiens yang hadir di acara pemakaman tersebut. Si orang pertama mengira dengan membagikan ilmunya kepada seluruh audiens yang hadir, ia mungkin bisa menyelamatkan banyak nyawa.
Di lain pihak, si orang kedua menceritakan bagaimana temannya itu hanya berhasil mencetak dua angka dalam suatu pertandingan bola basket yang tak terlupakan sewaktu SMU dulu. “Saya ingat waktu itu kita sering memanggilnya si gagang es krim karena dia begitu kurus. Pada saat detik-detik terakhir pertandingan, sebuah bola umpan tiba-tiba hinggap di tangannya. Tetapi sayang ia lalu tersandung tali sepatunya sendiri dan terjatuh.”
“Walaupun demikian, sebelum terjatuh, ia masih sempat menyelamatkan bola tersebut ke temannya yang akhirnya berhasil mengegolkan bolanya. Sesaat kemudian, kepalanya lalu membentur satu benda keras di lapangan. Sepanjang hidupnya, temanku si gagang es krim memang selalu berbakat dalam menciptakan sesuatu yang dramatis. Perbuatannya selalu melebihi penampilannya. Dia memang pahlawanku.”
Kedua orang tersebut sama-sama membicarakan hal yang sama, yaitu teman mereka yang sudah meninggal. Ketika si orang pertama selesai berbicara panjang, penonton tidak memberikan ekspresi apapun. Tetapi, ketika si orang kedua selesai berbicara dengan singkat, terlihat ada beberapa penonton yang meneteskan air matanya dengan ekspresi wajah terharu, senang, dan sedih bercampur aduk. Si orang kedua rupanya lebih sukses menyentuh emosi para audiensnya.
Tak peduli di mana pun Anda berbicara—di depan umum, di acara pemakaman sampai presentasi produk di sebuah perusahaan—Anda sedang menjual diri Anda sendiri dengan berkomunikasi. Supaya bisa menjual, Anda harus “berkomunikasi” dan bukan hanya “berbicara”. Ikutilah tips-tips berikut supaya pesan yang Anda sampaikan bisa diserap dengan baik oleh audiens.
Apa yang Hendak Disampaikan
Pilihlah kata-kata yang hendak digunakan. Lima menit pertama dan lima menit terakhir adalah bagian terpenting. Anda harus membuka, menjelaskan, dan menyimpulkan. Supaya pesan Anda bisa diserap maksimal, maka buatlah kata-kata yang digunakan seminim mungkin.
Sederhanakan
Salah satu kesalahan fatal yang bisa Anda buat adalah meremehkan kepintaran audiens. Risikonya adalah kehilangan perhatian dalam sekejap. Anda tidak bisa menganggap audiens terlalu bodoh, tetapi jangan juga menganggap bahwa audiens sudah tahu atau mengerti benar akan apa yang hendak disampaikan. Sederhanakan, tetapi rincilah poin-poin penting yang akan Anda sampaikan, bahkan jika Anda menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sudah dipahami audiens.
Hilangkan kata-kata yang tak perlu. Apa saja yang bisa dianggap tidak perlu? Apa pun yang menyimpang dari topik utama presentasi Anda dan malah bisa membingungkan atau mengundang kontroversi dari audiens. Terkadang hal yang paling sulit adalah menghilangkan kata-kata yang Anda sukai, tetapi sebenarnya tak berhubungan dengan tema utama. Jika tidak ada hubungannya dengan topik, maka lebih baik dihilangkan saja.
Berikan Penekanan
Jangan berharap apa yang Anda sampaikan bisa semuanya diserap oleh audiens. Beberapa hal, bahkan banyak hal, akan lewat begitu saja. Walaupun demikian, mereka pasti bisa mengingat apa tema atau topik utama yang hendak Anda sampaikan, jika Anda memberikan penekanan yang cukup dan tak berlebihan pada presentasi yang disampaikan. Cara terbaik melakukannya adalah dengan menyampaikan tema/topik utama tersebut dengan penekanan, pengulangan, atau disertai contoh-contoh.
Ketika Martin Luther King berbicara di depan Lincoln Memorial, ia mengulang-ulang satu kalimat, “I have a dream”. Bahkan, walaupun Anda tidak ingat lagi apa saja yang ia katakan waktu itu, Anda tetap bisa mengingat jelas tema uniknya, “I have a dream”. Perbedaan dari orang pertama dan orang kedua pada pidato di acara pemakaman di awal tadi sangatlah jelas, yaitu si orang kedua berhasil menekankan tema unik pidatonya, “Temanku si Gagang Es Krim”.
Tunjukkan, Jangan Cuma Ngomong
Kebanyakan dari kita bosan jika “diberitahu”, tetapi lebih tertarik jika “ditunjukkan atau diceritakan”. Perhatikan bahwa memberitahukan dengan detail itu berbeda dengan menceritakan dengan detail. Itulah sebabnya mengapa cerita lebih mudah diingat dan lebih tahan lama dalam ingatan kita.
Selain menceritakan, Anda juga bisa menggunakan bahasa tubuh dan demonstrasi bila perlu, agar bisa lebih efektif dalam menyampaikan pesan. Contoh, Anda hendak menyampaikan, “Awal tahun ini, penjualan kita menurun sepertiganya.” Dengan disertai gerakan tiga jari yang bergerak turun akan bisa membantu audiens untuk lebih mengingatnya.
Libatkan Audiens
Seringkali bukan “apa” yang disampaikan, tetapi lebih pada “bagaimana” Anda menyampaikannya. Libatkanlah audiens Anda. Buat mereka tertarik dengan “menarik” mereka lebih dekat pada topik utama, contohnya dengan lebih sering menggunakan kata “kita” daripada kata “saya”.
Sesekali ajukan pertanyaan kepada audiens. Walaupun tidak ada yang menjawab, mereka pasti menjawabnya dalam hati dan merasa terlibat dalam presentasi Anda. Mereka bisa turut berpikir, turut mempertimbangkan, bahkan turut merasa dihormati, jika Anda sesekali melihat langsung ke mata mereka. Maka, sebelum memulai presentasi, pastikan Anda mengenal siapa audiens Anda.
Pada contoh di awal artikel ini, si orang pertama mungkin akan bisa lebih menarik perhatian audiens, jika yang hadir adalah kebanyakan dari kalangan akademis atau kedokteran. Tetapi, yang hadir di situ adalah orang-orang yang sedang bersedih atas kematian teman mereka dan berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda-beda. Si orang kedua lebih berhasil menyedot perhatian karena tema yang ia sampaikan lebih bersifat “universal” dan cocok mengena di kalangan audiens yang hadir.
Latihan, Latihan, dan Latihan
Sebenarnya satu hal terburuk yang harus Anda hindari dalam berbicara adalah kegugupan. Rasa gugup merusak segalanya. Satu-satunya cara mengatasi kegugupan adalah dengan latihan, latihan, dan latihan. Anda bisa mencoba apa pun, termasuk mengatur nafas, mengepalkan tangan, minum, sampai menutupi kaki Anda yang gemetar, tetapi itu semua tidak akan banyak menolong. Latihan yang berulang-ulanglah yang bisa menghilangkan kegugupan.
Latihan membuat Anda mampu menghilangkan jeda-jeda yang tak diinginkan dalam berbicara, mengatur intonasi suara saat berbicara (kadang Anda harus berbicara keras, kadang Anda harus berbicara lembut, kadang cepat, kadang lambat). Kombinasi dari semua itu bisa membuat pidato Anda sangat menarik. Semua itu hanya bisa didapat dari “latihan”.

PENGERTIAN STRATEGI PEMASARAN


Jika kita menengok literatur asing, makna yang terkandung pada konsep strategi pemasaran adalah sepadan maknanya dengan konsep marketing strategy dalam bahasa Inggris. Kebanyakan para penulis memaknai konsep tersebut dengan pernyataan yang agak meluas. Chang and Campo (1980) melihat marketing strategy sebagai suatu isu sentral dan krusial dalam fungsi pemasaran. Guiltiman dan Paul (1985) melihat strategi pemasaran sebagai "a broad means of achieving given aims." Kotler (1976) mengartikan strategi pemasaran sebagai "the grand design to achieve an objective." McCarthy dkk. (1998,p.41) mendefinisikan marketing strategy sebagai "the specification of target market and related marketing mix." Rao dan Steckel (1995, p.3) menemukan bahwa kebanyakan para menejer mendefinisikan strategi pemasaran sebagai "…the way you go about accomplishing your objectives." Dan terakhir pengertian yang lebih spesipik disampaikan oleh Zikmund dan D’Amico (1989, p.669) yang menyatakan bahwa:

Marketing strategy includes the identification and evaluation of opportunities, analysis of market segments, selection of a target market or of target markets, and planning an appropriate marketing mix.

Dari beberapa pengertian strategi pemasaran yang dikemukakan oleh para penulis di atas, didapat gambaran bahwa strategi pemasaran pada hakikatnya merupakan serangkaian upaya yang ditempuh dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Untuk kepentingan kita dalam merancang strategi pemasaran, kita akan berpijak pada pengertian strategi pemasaran yang disampaikan oleh William Zikmund dan Michael D’Amico.

MENGEMBANGKAN STRATEGI PEMASARAN
Menurut McCarthy ddk (1998) setiap langkah yang dilakukan dalam mempormulasikan strtegi pemasaran harus diorientasikan pada upaya untuk mencapai kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan merupakan kunci utama dari konsep pemasaran dan strategi pemasaran. Ini berarti bahwa proses yang ditempuh oleh setiap pihak boleh jadi bermacam-macam sesuai dengan kesanggupan dan karakteristik masing-masing tetapi tujuan akhirnya tetap akan bermuara pada tercapainya kepuasan konsumen atau consumer satisfaction.

Boone and Kurt (1987) berargumentasi bahwa pengembangan a profitable marketing strategy dimulai dari the identification of attractive opportunities (mengidentifikasi peluang), kemudian defines the target market (tentukan pasar sasaran) dimana perusahaan akan mencurahkan seluruh aktivitas pemasarannya secara langsung. Pernytaan yang hampir sama, juga, dikemukakan oleh Zikmund dan D’Amico (1989) yang menegaskan bahwa terdapat tiga langkah utama di dalam pengembangan strategi pemasaran, yaitu:

identifying and evaluating opportunities (mengidentifikasi dan menilai peluang).
analysing market segments and selecting target markets (menganalisis segmen-segmen pasar dan memilih pasar sasaran)
planning a marketing mix strategy that will satisfy customer’s needs and meet the objectives and goals of the organisation (merencanakan strategi bauran pemasaran yang akan memuaskan kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan sesuai dengan tujuan organisasi.


Cravens (1994) berkomentar bahwa dalam langkah kedua, disamping menganalisis segmen pasar dan memilih pasar sasaran, adalah sangat penting bagi perusahaan untuk menentukan positioning strategy (strategi penempatan pasar). Maksudnya, dalam langkah kedua tersebut pihak perusahaan harus menentukan posisi produknya di pasaran; bagaimana produk dan atau merk yang ia ciptakan akan dipersepsikan dan diposisikan oleh para konsumen. Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini akan kita bahas pada diskusi kita berikutnya.

7 Habits of Highly Successful Sales Professionals

Successful salespeople are different. That's what I've noticed. You may have noticed this in your company, too. These behaviors seem to work for them. Don't you think they should work for you, too?

1.  They have a huge Rolodex.
Selling is finding customers who need or want what you have to sell.  Successful salespeople find their customers differently than less successful salespeople. One sales manager found that salespeople were more successful when they had more people resources to tap into. It didn't matter if salespeople had much sales experience or came from a non-sales area. If they had maintained contact with their mentors, peers and managers over the years they were able to use their contacts as a source of sales leads and information. They were also more successful. You can start by maintaining meaningful contact with your customers. What better people than satisfied homeowners to recommend you to new prospects?

2.  They read fast.
Customers value salespeople who possess knowledge and offer unique insights. To get these insights, you have to be current on a variety of topics. Business and non-business reading is essential. How do you process all that you need to? You've got to read fast. Taking a speed-reading course can increase your reading from 250 words a minute to almost 1000 words a minute. You'll be able to acquire much more information that can be of use to your customers. 

3.  They apply technology.
How do you use the information you acquire to serve your customers? Is it easy to access that information when you need it? Having the information and being unable to access it quickly is the same as not having it at all. Time spent looking for something is time that could be spent supporting your selling. Do you want to refer a past customer to a new client? The sales greats use technology to manage information. Their databases make it easy to retrieve information. With the data they can see where their sales are and what they need to do to meet their goals. They can quickly locate the information they need. They spend time selling with information, not looking for information. 

4.  They're naturally curious. When they talk with customers and prospects, they use the word "why" a lot. They intuitively know when to ask "why" to get more information. They know that information is more powerful if the reason behind it is known. They don't guess why a customer prefers a certain location. They ask why and find out from the customer's point of view. In addition to why, they also ask great questions learning far more about their customers than less successful salespeople. 

5.  They love what they do. Ask a sales great what they love about selling and they say, "Everything." Being around them is like being around an energy source. Their attitude of optimism and belief in the value of their work portrays this enthusiastic attitude to others. As one executive told me, "Passion is infectious. It's more important than what you know.  Maintaining the passion is the biggest challenge in business." Great salespeople are able to maintain their passion.

6.  They do the unexpected and more for their customers.
Salespeople can go out of their way to do something special for their customers. Getting customers for your customers, creatively showing a home if you’re a realtor, or making personal introductions for prospects are what talented sales professionals do. They think it is their job, not something extra.  In fact, most salespeople don't make the extra effort. 

7.  They're very creative. Being creative means the process of coming up with new ideas for business. Sales greats see possibilities where others give up. Getting told "no" by a worthwhile prospect is not the end for great salespeople; it's just the beginning. Using their creativity they find news ways to get to "yes" with the prospects who are a challenge. Creativity is the foundation of selling. It's useful for questioning, presenting and strategizing.  Believing in your creativity is the first step to being creative. 
Source :http://www.allbusiness.com/

Add Internet Marketing To Your Marketing Mix

The importance of Internet marketing is continuing to expand. Surveys of all kinds show a major shift in traditional marketing budgets to dollars being spent online to market all types of products and services.
Internet Marketing Defined. Internet marketing is the use of the Internet to advertise and sell products and services. Within the definition of Internet Marketing you will find mention of pay per click advertising, banner ads, e-mail marketing, search engine marketing (including search engine optimization), blog marketing, and article marketing. Each of these subject areas is important to consider prior to planning your internet marketing strategy.
Internet Marketing Provides Many Benefits. There are many advantages to having a fully executable internet marketing strategy. These benefits include measurability, flexibility, and affordability. Many online marketing tactics provide marketing professionals with the ability to customer acquisition costs. Moreover, marketing professionals are better able to track what marketing campaigns are working and quickly allocate their spending towards higher producing media placements.
Internet Marketing Tactics. As the Internet has expanded, so have the opportunities for marketing online. Here we will take a brief look at each type of Internet marketing and explain the benefits of each.
1. Pay-per-click Advertising. Sites like Google offer pay-per-click advertising for anyone interested in getting their message in front of the right segment or prospective buyer. This method is highly targeted and offers one of the best and most popular forms of internet marketing. Marketers using pay-per-click advertising only pay a fee, based on the competitiveness of a keyword or ad title, when a link is clicked on.
2. Banner Ads. Once the king of Internet marketing, online banner ads have evolved to include animated and flash banners, but the premise remains largely the same. Marketers purchase a specified number of impressions to run on a single site or network of sites and are generally not guaranteed a specific number of clicks.
3. Email Marketing. Effective among current clients and prospects who have requested information form your company, email marketing is a well established means to communicate and marketing your products. However, be aware of CAN-SPAM requirements and contact preferences of those you plan to reach.
4. Search Engine Marketing. If you want web browsers to visit your site, than focusing on search engine optimization and search engine marketing is a must. No Internet marketing plan is complete without ensuring that your site is submitted and included on major directories like Google, Yahoo!, and DMOZ. The dollars spent on Search Engine Marketing of any type will pay huge dividends.
5. Blog Marketing. Getting mention of your site or information related to your products can quickly scale if you are able to effectively tap into the countless blogs that are being created everyday. It is essential that you focus your efforts on blogs covering topics relevant to your product or service offering.
6. Article Marketing. One of the most important aspects of Internet Marketing, is to improve the link popularity to your site and improve the awareness of your product or service offering. To do so, many companies are focusing on publishing valuable content and making available for other to post to their website's.
Regardless of the Internet marketing tactics you choose, be sure to consider an integrated marketing strategy. Be sure that your internet marketing has a specific goal and is supported with a definitive plan and budget. Lastly, be sure to pick up a book, conduct some research, or work with professionals to enhance your Internet marketing know-how.

The Psychology of Marketing

It takes some knowledge of basic psychology and human behavior to succeed at marketing. People buy things to either meet their needs or satisfy their wants and desires. As a marketer, you are looking not at what your product has to offer, but at what is motivating your target audience to buy your product or service.
For example, people aren't buying perfume because of the aroma. They are buying romance. The new exercise machine doesn't sell because of the latest features, but because the customer is buying a healthier, perhaps thinner look. The end result of a product or service is what it does for buyers — how it makes them feel, look, or act. Even children are looking to have the same games as their friends, not just to play with, but to be popular and fit in. Therefore, you need to keep broad motivational reasons in mind when planning your marketing campaign.
There is also a psychological aspect to establishing trust and forming a relationship. Most customers have been burned, treated badly, swindled, or disenchanted at least once. They will not necessarily jump at the opportunity to buy something unless they have a sense of confidence in the seller. In an age where people are tired of receiving spam and a glut of marketing materials, the modern consumer has become savvy and somewhat cynical. Only a company with a strong proven reputation will gain their trust. You, therefore, want to always build a level of trust through quality of service, and this should be reflected in your marketing.
Finally, there are practical factors that enter into marketing. If it is simply inconvenient for a customer to purchase from you or you simply cannot satisfy their needs with the product they are seeking, then don't attempt to fit a square peg into a round hole. Too many sales are lost by trying to do so. More importantly, you may risk ending a future relationship with the customer by losing their trust.
In the end you want to sell customers by gaining their trust and building a relationship based on customer satisfaction and by being honest and not trying to be everything to everyone.

Entri Populer

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme